Setelah berkutat
dengan pekerjaan yang cukup memeras otak, weekend kemarin saya
memutuskan menyelamatkan mood kerja pekan ini. Apa lagi kalau bukan
dengan merasakan udara bebas dan menikmati belahan lain bumi yang memikat mata.
Pilihan saya kali ini jatuh pada sebuah pantai di Lamongan, Jawa Timur. Namanya
yang unik membuat saya berhasrat membunuh rasa penasaran. Pantai Kutang. Iya, itu namanya. Unik bukan? Eh, unik atau tabu ya?
Bicara soal pantai di Tuban, dulu
saya sempat memandang sebelah mata. Ah, paling juga pantai berpasir hitam yang
kotor, airnya cokelat, tak ada menarik-menariknya. Namun, dugaan saya itu salah
setelah saya berkunjung ke Pantai Remen.
Ternyata, pasirnya putih dan hutan cemaranya bikin pantai tampak indah. Nah, begitu
ada perlu buat pemotretan, saya tak ragu memilih pantai lainnya di Tuban.
Seorang kawan merekomendasikan Pantai Sowan.
“Kalau ke Lombok, jangan sampai
melewatkan Bukit Merese. Sunset di sana kece banget!” kata seorang kawan
guru yang tinggal di Lombok.
Saran itu entah mengapa selalu
terngiang sampai saya berkesempatan menginjakkan kaki di pulau ini. Selepas
merasakan ketenangan Pantai Mawun, kami pun bergegas menuju Bukit Merese di
kawasan Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Berbekal info dari warga lokal, kami
menemukan sebuah jalan pintas di antara ladang
jagung. Terdapat papan nama Bukit Merese di mulut gang.
Bertemu kawanan kerbau di sawah atau rawa-rawa, itu sih biasa. Bertemu gerombolan kerbau di pantai, itu baru luar biasa. Pemandangan unik ini dapat kita saksikan kalau berkunjung ke Pantai Selong Belanak di Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Hewan-hewan ternak ini diarak menyusuri pantai seolah menyapa para pengunjung yang berjemur, bermain pasir, atau bersiap-siap untuk berselancar.
Karena sudah sangat sering berkunjung ke Pantai Kuta di Bali,
saya jadi ingin membandingkannya dengan Pantai Kuta di Lombok yang saya datangi
beberapa waktu lalu. Bukan maksud saya menentukan pantai mana yang lebih indah
ya. Tentu semua kembali ke selera dan suasana saat berkunjung. Hanya, memang
ada beberapa kesamaan dan perbedaan antara dua pantai bernama kembar ini.
Berapa panjang garis pantai yang pernah kalian datangi? Apakah
ada yang lebih dari 7 km? Kalau belum, Pantai Panjang Bengkulu masih memegang
rekor sebagai pantai terpanjang yang pernah kita temui. Benar-benar sesuai
namanya, pantai ini memang panjang. Sebenarnya, dari ujung ke ujung, pantai ini
lebih dari 300 km, namun di Kota Bengkulu saja panjangnya sekitar 7 km.
Di penghujung 2015,
saya mengulas kembali sejumlah destinasi yang saya kunjungi sepanjang tahun
ini. Harapan saya, pengalaman saya bermanfaat untuk teman-teman yang ingin
mengunjunginya juga. Tulisan ini adalah bagian kedua rekap 2015 saya, berisi 22
destinasi di Bali, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Batu, Malang, Mojokerto, dan Magetan.
Bagian pertama telah saya publish
minggu lalu.
2015 merupakan tahun kedua saya menekuni ketertarikan akan fotografi
dan traveling, kemudian mendokumentasikannya melalui blog ini. Alhamdulillah, sepanjang
2015, Allah menganugerahkan kesempatan untuk saya melangkah lebih jauh, melihat
lebih banyak, dan mendengar lebih luas tentang alam dan isinya ini.
Di penghujung 2015, saya
ingin mengulas kembali sejumlah destinasi yang saya kunjungi sepanjang tahun
ini. Harapan saya, pengalaman saya bermanfaat untuk teman-teman yang ingin
mengunjunginya juga. Tulisan ini adalah bagian pertama rekap 2015 saya, berisi 21
destinasi yang saya datangi di Gresik
dan Yogyakarta. Bagian kedua akan saya publish
minggu depan.
Tiket terusan Mahari Zoo & Goa Lamongan (Mazola) membawa
saya ke Wisata Bahari Lamongan (WBL). Jarak keduanya hanya sekitar 100 meter,
terpisah oleh jalan raya. Tak perlu naik kendaran lagi. Tersedia jembatan
penyeberangan yang menghubungan Mazola dan WBL. Sebelum sampai di loket pemeriksaan
gelang tiket, pengunjung melewati deretan kios oleh-oleh mulai makanan sampai
suvenir.
Pantai berpasir
putih di Tuban? Serius ada? Pertanyaan itulah yang sempat terlintas ketika saya
pertama kali mendengar kabar bahwa kota yang populer dengan minuman khasnya,
tuak, ini memiliki Pantai Remen, pantai berpasir putih. Maklum, pantai-pantai
di Tuban dan sekitarnya umumnya berpasir hitam dan berair keruh. Dan, akhirnya
saya pun menyaksikan dengan mata kepala sendiri hamparan pasir putih di Pantai
Remen akhir Juli lalu.
Saya selalu
berusaha menemukan sisi baik dari apa pun yang terjadi di depan mata. Itu cara
saya untuk menikmati setiap momen. Salah satunya adalah ketika menyeberangi
Selat Bali, penghubung Pulau Bali dan Pulau Jawa. Beberapa kali saya
menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk, Bali, menuju Pelabuhan Ketapang,
Banyuwangi, dengan kapal feri dan kerap malam hari. Nah, Akhir April lalu, kebetulan
kapal yang saya tumpangi berlayar pada sore hari.
Siang itu, setelah diguyur hujan di Pantai Pandawa, saya
sempat pesimistis akan mendapatkan cuaca cerah di Pura Luhur Uluwatu. Apalagi, perjalanan
menuju pura tersohor di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, ini
hanya memakan waktu sekitar 30 menit dari Pantai Pandawa. Namun, ternyata kenyataan berkata lain. Turun
dari kendaraan, saya disambut cuaca cerah. Saya pun tak mau menunggu lama untuk
menengok pura di tebing tinggi dengan view
laut lepas ini.
..................
Sejak saat
itu hatiku tak mampu
membayangkan rasa
di antara kita
di pasir
putih kau genggam jemari tanganku
menatap
mentari yang tenggelam
Semua berlalu
di balik khayalku
kenangan yang
indah berdua denganmu
di Kuta Bali
kau peluk erat tubuhku
di Kuta Bali
cinta kita
Bersemi dan
entah kapan kembali
mewangi dan
tetap akan mewangi
bersama rinduku
walau kita jauh
kasih, suatu
saat di Kuta Bali
..................
Pantai Pandawa merupakan salah satu bukti keberhasilan Bali mengelola potensi alam menjadi objek wisata yang mengandung magnet besar untuk menarik wisatawan. Berawal dari sebuah pantai indah nan sulit dijangkau, dibangunlah jalan akses menuju pantai dengan cara membelah bukit kapur. Hasilnya, Pantai Pandawa kini menjadi salah satu destinasi yang populer. Namanya pun melambung, sejajar dengan pantai-pantai lain di Bali yang telah tenar lebih dulu seperti Kuta atau Dreamland.
Wisatawan yang mengunjungi Bali,
sepertinya, tidak akan melewatkan Tanah Lot. Destinasi ini memang sangat
populer dengan pura yang berdiri kokoh di atas batu karang besar di tengah
pantai. Objek yang terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten
Tabanan, ini bahkan mungkin sudah
dianggap terlalu mainstream bagi
banyak wisatawan. Namun, tahukah Anda bahwa Tanah Lot punya sisi lain yang
mungkin tak sempat dinikmati pengunjungnya?
Yogyakarta kembali memanggil saya untuk datang. Kali ini kesempatan berkunjung ke sana dalam rangka family gathering sekolah tempat saya mengajar, 31 Januari-1 Februari 2015. Tak banyak lokasi yang kami kunjungi, hanya Pantai Baron, Gua Pindul, dan Malioboro. Pantai Baron akan saya ulas di edisi kali ini.
Masih di
hari ketiga trip saya di Yogyakarta, 2 Januari 2015, destinasi berikutnya adalah
Pantai Drini. Tidak sulit menemukan pantai ini. Letaknya sangat dekat dengan
perkampungan penduduk di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul,
yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan. Seperti lokasi sebelumnya yang saya
datangi, Pantai Ngandong, saya tak perlu membayar tiket masuk lagi, cukup
ongkos parkir.
Love at the first
sight! Tidak berlebihan jika itulah yang saya rasakan saat pertama kali
melihat Pantai Ngandong. Garis pantai, pasir, gradasi warna air, ombak, dan
bebatuan karangnya membuat saya berdecak kagum. Tanpa sadar, saya menghabiskan
banyak waktu untuk meng-explore
setiap sisi pantai yang masih terjaga kebersihannya ini.
Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta memang benar-benar daerah istimewa. Bukan hanya potensi wisata yang
bertebaran di lima kabupatennya. Tak jarang lokasi wisata itu berdekatan. Pantai
Parangtritis di Kabupaten Bantul, misalnya, berdekatan dengan Bukit
Parangendog, Pantai Parangkusumo, Pantai Depok, dan Gumuk Pasir. Saat ada
kesempatan ke Bantul, saya pun ingin membunuh rasa penasaran dengan mengunjungi
objek-objek tersebut.











_1_1_wm.jpg)
_wm.jpg)

.jpg)
