Bangunan-bangunan peninggalan zaman penjajahan di Indonesia
umumnya didirikan pada masa pemerintahan Belanda atau Jepang. Namun, tahukah kalian,
ternyata ada juga bangunan yang diwariskan oleh Inggris. Namanya Fort
Marlborough. Benteng yang dikabarkan terbesar di Asia itu hingga kini masih
berdiri megah serta menjadi salah satu objek wisata dan penelitian sejarah di
Bengkulu. Hebatnya, sebagian besar sisi bangunan benteng berarsitektur khas
abad ke-17 ini masih asli, tidak mengalami renovasi signifikan.
Seberapa kenal kalian dengan sosok Soekarno? Jujur saja, saya
hanya tahu sepak terjang presiden pertama Republik Indonesia ini di ranah
politik. Serba-serbi kehidupan pribadinya bukan tak menarik. Saya saja yang tak
banyak membaca. Namun, kunjungan ke Bengkulu membuka mata saya tentang kisah di
balik tirai rumah tangga Soekarno. Nama demi nama ternyata menorehkan sejarah
dalam sisi lain kehidupan sang Proklamator.
Setelah berkunjung ke Bengkulu, saya baru sadar, provinsi ini kaya
akan bukti sejarah. Selain tempat-tempat penuh history, kota ini juga memiliki barang-barang peninggalan sejak
zaman prasejarah. Benda-benda adat dan budaya suku-suku setempat juga ada. Semua
tertata apik di Museum Negeri Bengkulu. Cukup satu jam kunjungan, banyak info
menarik yang saya bisa bagikan. Beberapa di antaranya adalah koleksi-koleksi
unik yang belum pernah saya lihat di museum lainnya.
Berapa panjang garis pantai yang pernah kalian datangi? Apakah
ada yang lebih dari 7 km? Kalau belum, Pantai Panjang Bengkulu masih memegang
rekor sebagai pantai terpanjang yang pernah kita temui. Benar-benar sesuai
namanya, pantai ini memang panjang. Sebenarnya, dari ujung ke ujung, pantai ini
lebih dari 300 km, namun di Kota Bengkulu saja panjangnya sekitar 7 km.
Danau tersebar di banyak daerah. Taman bunga juga banyak di
mana-mana. Namun, danau yang dihiasi taman bunga nan luas ya Danau Mas Harun
Bastari. Kalau ada waktu berkunjung ke Bengkulu, jangan lewatkan objek indah
yang berada di dataran tinggi ini. Bukan hanya mata yang dimanjakan dengan
hamparan bunga beragam warna, tapi badan juga terasa sejuk lantaran danau ini
diselimuti cuaca dingin khas pegunungan.
Kalau bukan karena tergabung dalam Famtrip Festival Bumi
Rafflesia 2017, mungkin sampai saat ini saya masih belum bisa membedakan bunga Rafflesia arnoldii dan bunga bangkai. Selama ini saya mengira dua puspa langka asal
Bengkulu itu sama. Bahkan, saya sempat mengira Rafflesia arnoldii adalah nama
lain bunga bangkai. Betapa terbatasnya wawasan saya tentang flora asli
Indonesia.





