Berlibur kadang tak
mengenal musim. Tak semua orang bisa memastikan waktu luangnya jatuh pada musim
kemarau atau musim hujan. Ada yang bilang bahwa kesempatan biasanya tak datang
dua kali. Saya salah satunya. Itulah mengapa saya mengiyakan ajakan kawan-kawan
saya untuk menjelajahi Bromo pada musim hujan. Segala ekspektasi tentang Bromo
saya turunkan sampai ke titik terburuk. Yang penting adalah kebersamaan. Itu
yang mahal, Bro.
Ini ceritanya
nebeng liburan. Basyir, kawan saya semasa kuliah yang tinggal di Malang, hendak
berlibur ke pantai-pantai di Malang Selatan bersama keluarganya. Kebetulan saat
itu saya sedang berada di Malang untuk suatu keperluan. Tanpa tedeng
aling-aling, saya pun bergabung dengan Basyir dan keluarga.
Bromo sudah jadi ikon wisata Jawa
Timur, bahkan Indonesia. Orang Jatim belum pernah ke Bromo, wah itu sih
kebangetan. Masa orang asing saja sudah tidak asing dengan pegunungan seluas
50.276,3 hektare yang diresmikan sebagai taman nasional sejak 1982 ini. Itulah
mengapa saya tak cukup sekali mengunjunginya. Kali ini saya akan berbagi
pengalaman meng-explore keindahan Bromo bersama Indonesia Discoverer.
Untuk menjaga solidaritas, para pengelola bersama guru ahli (master teacher) Pusat Belajar Guru (PBG)
Bojonegoro menggelar outbond dan rafting. Lokasi yang dipilih sebuah basecamp rafting di Desa Bayem,
Kecamatan Kasembon, Malang. Sebagai salah satu member PBG, tentu saja saya antusias. Selain karena suka rafting, saya belum pernah menjajal arung
jeram di sini.
2016 merupakan tahun ketiga saya menekuni ketertarikan akan fotografi
dan traveling, kemudian mendokumentasikannya melalui blog ini. Alhamdulillah,
sepanjang 2016, Allah menganugerahkan kesempatan untuk saya melangkah lebih
jauh, melihat lebih banyak, dan mendengar lebih luas tentang alam dan isinya
ini. Di pergantian tahun 2016 menuju 2017 ini, saya mengulas kembali sejumlah
destinasi yang saya kunjungi sepanjang tahun ini di Lumajang, Malang, Batu,
Pasuruan, Nganjuk, Kalimantan, dan tentunya Bojonegoro. Harapan saya,
pengalaman saya bermanfaat untuk teman-teman yang ingin mengunjunginya juga.
Setelah menghabiskan sarapan pagi di rest area Waduk Selorejo Ngantang, kami
memutuskan melanjutkan perjalanan ke Grojogan Sewu di Dusun Tretes, Desa
Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Kami hanya butuh waktu sekitar 20
menit untuk sampai di objek tujuan.
Pagi itu, cuaca cerah. Jam menunjukkan angka 07.30 saat
kendaraan kami sampai di lahan parkir Bendungan Selorejo. Cahaya matahari telah
maksimal menerangi kawasan wisata yang terletak di Desa Selorejo, Kecamatan
Ngantang, Kabupaten Malang, ini. Saya yang memang tak terlalu suka terpapar
sinar matahari berniat segera berteduh di bawah pohon rindang. Jika tidak
demikian, duduk lesehan di warung yang menyajikan beragam ikan air tawar
tampaknya menarik.
Jika ditanya, objek wisata alam apa yang sangat populer di
Malang, salah satu jawabannya pasti Coban Rondo. Tak salah jika air terjun yang
di terletak di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, ini menjadi primadona. Aksesnya
sangat mudah, bahkan bus besar pun bisa sampai lahan parkir. Selain itu,
kawasan Coban Rondo kini dilengkapi objek-objek menarik lainnya.
“Aku mau naik kuda lagi,” rengek Jindan.
Ini adalah permintaan ketiga bocah berusia 7 tahun itu. Yahya,
sang adik, pun tak mau kalah. Dia juga ingin naik kuda lagi. Rupanya, dua
putaran naik kuda belum cukup bagi dua anak yang tergolong aktif itu.
“Jindan, Yahya, kalian kan sudah dua kali naik kuda. Cukup ya,”
ujar sang ayah.
“Tapi kan aku belum naik kuda yang itu,” rajuk Jindan sambil
menunjuk seekor kuda berponi di sudut taman itu.
Sejarah bukan hanya rangkaian peristiwa
tanpa makna
Sejarah bukan hanya cerita pengantar
tidur belaka
Sejarah selalu memberi butiran-butiran
hikmah bijaksana
Sejarah menyimpan cerminan kehidupan
anak manusia
Tersebutlah kisah penuh angkara dari
bumi Singosari
Ken Endog dan Batara Brahma menjalin
asmara tanpa ikatan resmi
Lahirlah Ken Arok, nasib malang dialaminya
ketika masih bayi
Dia dibuang di tanah pekuburan dan
ditemukan seorang pencuri
Jarum jam menunjukkan angka 14.30 saat kami menyudahi
petualangan di Gunung Banyak, Batu. Terlalu siang untuk pulang. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke
sebuah air terjun di kawasan Pujon. Teman saya meyakinkan bahwa tak butuh waktu
lama untuk mengunjungi air terjun yang dikenal dengan nama Grojogan Sewu ini. Benar,
tak lebih dari 30 menit, kami sudah sampai di tujuan.








