Ini kali keempat saya
menulis tentang Coban Talun. Setiap datang ke sana, selalu ada cerita yang
menggelitik saya untuk berbagi. Tulisan pertama tentang sensasi menikmati air
terjun di kawasan Bumiaji, Batu, ini benar-benar seorang diri. Tulisan kedua
tentang pengalaman mistis saat camping di sana. Tulisan ketiga tentang
penangkaran lutung Jawa. Nah, tulisan keempat ini tentang geliat wisatanya yang
mengundang pengunjung.
Daripada memelototi layar HP, saya lebih senang menikmati
pemandangan di luar jendela kendaraan dalam perjalanan ke luar kota. Hobi jelalatan
ini tak jarang membawa berkah. Saat mengantar siswa lomba ke Blitar beberapa
minggu lalu, misalnya, saya menemukan objek wisata baru. Ketika kendaraan
melintas di hutan Nganjuk, mata saya tertuju pada tulisan “Wisata Gua dan
Grojogan Putri Ayu”. Ini pasti baru. Tahun lalu saya melewati jalan yang sama
dan tulisan di papan sederhana ini belum ada.
Suatu siang yang sendu merayu pada musim kemarau, tiba-tiba saya
berhasrat mendatangi Kedung Peti. Bermodal informasi ala kadarnya, sepulang
mengajar, saya mengarahkan kendaraan menuju kawasan barat Bojonegoro. Tujuan
saya adalah Desa Malo di Kecamatan Malo. Tanpa ekspektasi, yang penting jalan. Jika
objek ini bagus, alhamdulillah. Jika tidak, saya sudah puas membunuh rasa
penasaran.
Setelah menghabiskan sarapan pagi di rest area Waduk Selorejo Ngantang, kami
memutuskan melanjutkan perjalanan ke Grojogan Sewu di Dusun Tretes, Desa
Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Kami hanya butuh waktu sekitar 20
menit untuk sampai di objek tujuan.
Jika ditanya, objek wisata alam apa yang sangat populer di
Malang, salah satu jawabannya pasti Coban Rondo. Tak salah jika air terjun yang
di terletak di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, ini menjadi primadona. Aksesnya
sangat mudah, bahkan bus besar pun bisa sampai lahan parkir. Selain itu,
kawasan Coban Rondo kini dilengkapi objek-objek menarik lainnya.
Percaya atau tidak, Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Nganjuk,
ternyata memiliki sebelas air terjun. Sekali lagi, semua berada di satu desa,
bukan satu kota. Sedudo merupakan air terjun yang paling populer. Sepuluh air
terjun lainnya masih bisa dibilang alami karena belum tersentuh pembangunan
fasilitas tambahan layaknya objek wisata. Terang saja saya geleng-geleng kagum
mendengar keterangan warga yang saya temui di Air Terjun Gedangan itu. Dengan
mudah, saya percaya karena Desa Ngliman memang berada di lereng Gunung Wilis yang
dilimpahi banyak sumber air alami.
Turun dari Bukit Watu Lawang, saya tancap gas menuju Air
Terjun Sedudo. Saya belum pernah mengunjungi objek wisata yang sebenarnya sudah
sangat populer di Nganjuk dan sekitarnya ini. Karena itu, saya tak mau menyia-nyiakan
kesempatan. Tiket seharga Rp 10 ribu sudah di tangan, lokasinya pun tak jauh
dari Bukit Watu Lawang. Saya juga penasaran seperti apa kondisi Sedudo kini setelah
ditutup beberapa bulan lantaran pernah terjadi musibah tebing longsor hingga
merenggut tiga nyawa pengunjung.
Gerimis menyapa saat kendaraan kami masuk ke areal parkir
Coban Baung. Siang itu mendung menggantung seolah ingin segera menumpahkan air
hujannya ke bumi. Namun, itu tak menyurutkan niat saya dan istri untuk
mendatangi air terjun ini. Bergegas kami melangkahkan kaki menuju loket tiket
yang dijaga dua bapak berseragam Perhutani. Seperti biasa, saya menyempatkan
diri bertanya jawab dengan petugas. Setidaknya saya harus tahu jarak tempuh dan
medan menuju air terjun. "Jika nanti hujan deras, sebaiknya langsung kembali ya, Mas," pesan si bapak petugas.
Jarum jam menunjukkan angka 14.30 saat kami menyudahi
petualangan di Gunung Banyak, Batu. Terlalu siang untuk pulang. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke
sebuah air terjun di kawasan Pujon. Teman saya meyakinkan bahwa tak butuh waktu
lama untuk mengunjungi air terjun yang dikenal dengan nama Grojogan Sewu ini. Benar,
tak lebih dari 30 menit, kami sudah sampai di tujuan.
Gua Tetes merupakan salah satu lokasi wisata yang telah lama
dikelola oleh warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Namun,
seiring melambungnya nama Coban Sewu yang menarik banyak pengunjung, Gua Tetes
kini kembali bergairah. Maklum, Gua Tetes berdekatan dengan Coban Sewu. Pengunjung
dari arah Lumajang akan melewati Gua Tetes dan Air Terjun Telaga Biru sebelum
menikmati Coban Sewu. Sedangkan pengunjung dari Malang, bisa menjelajahi Air
Terjun Telaga Biru dan Gua Tetes setelah membuktikan keindahan Coban Sewu.
Selepas merasakan sensasi megah dan indahnya Coban Sewu, saya
dan istri tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kami telah menggadaikan nyali
untuk turun tebing melalui tangga bambu yang lumayan ngeri-ngeri sedap. Begitu sudah
sampai dasar tebing, sayang kalau langsung kembali. Kami sepakat mendatangi dua
air terjun berikutnya di dasar tebing itu, yaitu Air Terjun Telaga Biru dan Air
Terjun Gua Tetes.











