Monday, 8 June 2015

PURA ULUWATU ANDALAN DESA PECATU



Siang itu, setelah diguyur hujan di Pantai Pandawa, saya sempat pesimistis akan mendapatkan cuaca cerah di Pura Luhur Uluwatu. Apalagi, perjalanan menuju pura tersohor di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, ini hanya memakan waktu sekitar 30 menit dari Pantai Pandawa. Namun, ternyata kenyataan berkata lain. Turun dari kendaraan, saya disambut cuaca cerah. Saya pun tak mau menunggu lama untuk menengok pura di tebing tinggi dengan view laut lepas ini.



Prasasti berisi sejarah Pura Luhur Uluwatu
Sebelum memasuki kawasan Pura Uluwatu, pengunjung wajib mengenakan selendang untuk diikat di pinggang. Pengunjung bercelana atau rok pendek di atas lutut wajib memakai kain yang disediakan di loket tiket. Sambil menyusuri hutan kecil yang teduh, pemandu kami mengingatkan banyaknya monyet liar yang biasa “mengganggu” kenyamanan pengunjung lantaran suka merebut benda-benda seperti topi, kacamata, atau kamera. Namun, siang itu sepertinya monyet-monyet tersebut sedang tidak mood menampakkan diri. Hanya ada beberapa ekor monyet, itu pun tampak dari jauh. Mungkin mereka lelah. Hehehe.

Tebing curam di sisi barat pura

Bagian pertama yang menyita perhatian saya adalah prasasti yang bertuliskan sejarah Pura Uluwatu di bawah anak tangga menuju pura. Sengaja saya membacanya sampai tuntas. Ternyata, pura ini dibangun oleh Mpu Kuturan, diperkirakan pada masa pemerintahan raja yang bergelar Sri Haji Marakata. Raja ini memerintah Bali pada tahun 1032-1036. Bayangkan, betapa tuanya pura ini sekarang.  Mpu Kuturan adalah seorang guru spiritual kerajaan. Pura ini dibangun sebagai tempat pemuliaan raja-raja leluhur. Selanjutnya, pura ini menjadi tempat pemujaan bagi umat Hindu.

Umat memasuki pura
Pura Luhur Uluwatu di ujung tebing
Saya lantas menaiki anak tangga di sisi barat Pura Uluwatu. Tebing curam tepat di tepi laut lepas menjadi daya pikat di kawasan ini. Ada beberapa bagian tebing yang menjorok ke laut. Di ujung salah satu tebing yang menjorok ke laut itulah, berdiri kokoh Pura Uluwatu. Bangunan ini berada di ketinggan 97 meter di atas permukaan laut. Namun, hanya umat yang akan beribadahlah yang boleh memasuki areal pura. Wisatawan cukup menikmati panorama indah di seputar pura. 

Pemandangan tak kalah indah juga tersaji di sisi timur pura. Tebing curam nan panjang menjadi spot foto yang menarik bagi para pengunjung, termasuk saya. Meskipun panas matahari sangat menyengat kulit, saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menjelajahi sisi tebing. Suara debur ombak pecah saat menabrak bebatuan karang. Ombak di kawasan pantai Pecatu ini kabarnya sangat disukai para peselancar. Even selancar internasional juga kerap diselenggarakan di sini. 

Pura dan samudera lepas

Tebing terjal di sisi timur pura
 
Saya dan tebing Uluwatu
Tebing terjal ini ternyata ditumbuhi lumayan banyak tanaman. Saya menyebutnya hutan kecil yang menjadi habitat monyet-monyet liar di sana. Untuk pengunjung yang lelah, sejumlah gazebo menjadi tempat berteduh yang nyaman. Perpaduan samudera luas, tebing terjal, hutan kecil, dan gazebo itulah yang menjadi ikon Pura Uluwatu. (*)

No comments:

Post a Comment