Bagi saya, kesempatan mendatangi masjid terbesar di sebuah
kota yang saya kunjungi merupakan kebahagiaan tersendiri. Selain beribadah, saya
bisa menyelami suasana religiusnya dengan mengamati atau bahkan berbincang
dengan para jamaah. Rasa bahagia kian membuncah jika masjid itu tersohor akan
kemegahan atau keunikannya. Wah, makin semangat tuh. Itulah mengapa, saat
berada di Semarang, Masjid Agung Jawa Tengah menjadi salah satu destinasi wajib
saya.
Setelah puas berkeliling Lawang Sewu, selanjutnya saya
mengarahkan tujuan ke Sam Poo Kong. Kelenteng yang berdiri megah di kawasan Simongan
ini merupakan salah satu destinasi yang wajib dikunjungi kalau kita sedang berada
di Kota Semarang. Mau tahu mengapa? Selain menjadi tempat ibadah bagi kaum
Tridharma, bangunan ini juga menyimpan banyak bukti sejarah sebagai petilasan
seorang laksamana Tiongkok beragama Islam, Zheng He atau Cheng Ho.
Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang, bulan penuh rahmat
dan ampunan. Ya, Ramadhan telah menyapa umat Islam. Karena berharap mendulang pahala
berlipat ganda, pada bulan suci itu, kaum muslimin umumnya berlomba-lomba
meningkatkan ibadah. Bukan hanya puasa, tetapi juga ibadah lainnya seperti salat
tarawih, tadarus, zakat, sedekah, dan masih banyak yang lainnya.
Di penghujung 2015,
saya mengulas kembali sejumlah destinasi yang saya kunjungi sepanjang tahun
ini. Harapan saya, pengalaman saya bermanfaat untuk teman-teman yang ingin
mengunjunginya juga. Tulisan ini adalah bagian kedua rekap 2015 saya, berisi 22
destinasi di Bali, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Batu, Malang, Mojokerto, dan Magetan.
Bagian pertama telah saya publish
minggu lalu.
2015 merupakan tahun kedua saya menekuni ketertarikan akan fotografi
dan traveling, kemudian mendokumentasikannya melalui blog ini. Alhamdulillah, sepanjang
2015, Allah menganugerahkan kesempatan untuk saya melangkah lebih jauh, melihat
lebih banyak, dan mendengar lebih luas tentang alam dan isinya ini.
Di penghujung 2015, saya
ingin mengulas kembali sejumlah destinasi yang saya kunjungi sepanjang tahun
ini. Harapan saya, pengalaman saya bermanfaat untuk teman-teman yang ingin
mengunjunginya juga. Tulisan ini adalah bagian pertama rekap 2015 saya, berisi 21
destinasi yang saya datangi di Gresik
dan Yogyakarta. Bagian kedua akan saya publish
minggu depan.
Setelah berziarah ke makam Sunan Giri dan Sunan Prapen, saya
tergelitik untuk melihat dari dekat situs Giri Kedaton di Dusun Kedaton, Desa
Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Kota Gresik. Penasaran, rasanya, seperti apa wujud
peninggalan sejarah itu saat ini. Apalagi, jaraknya tak jauh, hanya sekitar 1
kilometer, dari bukit tempat dimakamkannya Sunan Giri dan
Sunan Prapen.
Dulu setiap kali berziarah ke makam Sunan Giri di Gresik, saya
selalu batal menyempatkan diri berziarah juga ke makam Sunan Prapen. Sepertinya,
umumnya para peziarah Sunan Giri juga tak mengagendakan kunjungan ke makam
Sunan Prapen. Mungkin, itu karena Sunan Prapen tak masuk dalam daftar Wali
Songo. Padahal, letak makam Sunan Prapen hanya beberapa meter dari makam Sunan
Giri. Nah, ketika kembali berziarah ke makam Sunan Giri belum lama ini, saya
pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kali ini saya harus melihat dengan mata
kepala sendiri makam yang selama ini hanya saya dengar namanya itu.
Selama ini, yang saya tahu, makam Sunan Kalijaga berada di
Kadilangu, Demak, Jawa Tengah. Namun, ternyata di sebuah bukit di Gresik, Jawa Timur, juga
terdapat makam yang oleh warga setempat diyakini sebagai makam Sunan Kalijaga.
Bukit itu bernama Surowiti di Desa Surowiti, Kecamatan Panceng. Jaraknya
sekitar 40 kilometer dari Kota Gresik.
Berziarah ke
Makam Sunan Giri di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik, memantik memori saya
tentang masa kecil. Saya lupa usia berapa tepatnya, mungkin sekitar 7 tahun,
saya dibawa oleh ayah dan ibu saya berkunjung ke makam salah satu dari Wali
Songo (Wali Sembilan) ini. Saya masih ingat, saat itu, kami naik delman menuju
makam. Saya sangat menikmati kendaraan ini karena bebas melihat pemandangan
sepanjang jalan.
Jujur saja, selama ini saya tidak pernah memasuki tempat
ibadah agama selain agama yang saya anut. Menurut saya, tempat ibadah merupakan
kawasan yang sangat dijunjung tinggi kesakralannya sehingga hanya pemeluk agama
itulah yang berhak memasukinya. Namun, anggapan saya itu tak terbukti saat saya
menjejakkan kaki di kawasan Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban. Tempat ibadah umat Tri
Darma (Buddha, Tao, dan Konghucu) ini sangat terbuka bagi para pengunjung beragama
lain. Dan, kelenteng ini kini menjadi salah satu destinasi wisata di Kota
Tuban.
Berapa panjang makam yang pernah Anda lihat? Mungkin paling
panjang seukuran tinggi rata-rata manusia ya. Nah, Sabtu 4 Juli lalu saya
sengaja berziarah ke kompleks makam dengan sejumlah makam panjang. Tak
tanggung-tanggung, panjangnya mencapai 9 meter! Kompleks makam yang telah diresmikan
sebagai situs bersejarah dan cagar budaya ini terletak di Desa Leran, Kecamatan
Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Nama resminya adalah Makam Siti Fatimah
Binti Maimun, dikenal juga dengan nama Makam Panjang.











