Berlibur kadang tak
mengenal musim. Tak semua orang bisa memastikan waktu luangnya jatuh pada musim
kemarau atau musim hujan. Ada yang bilang bahwa kesempatan biasanya tak datang
dua kali. Saya salah satunya. Itulah mengapa saya mengiyakan ajakan kawan-kawan
saya untuk menjelajahi Bromo pada musim hujan. Segala ekspektasi tentang Bromo
saya turunkan sampai ke titik terburuk. Yang penting adalah kebersamaan. Itu
yang mahal, Bro.
Bromo sudah jadi ikon wisata Jawa
Timur, bahkan Indonesia. Orang Jatim belum pernah ke Bromo, wah itu sih
kebangetan. Masa orang asing saja sudah tidak asing dengan pegunungan seluas
50.276,3 hektare yang diresmikan sebagai taman nasional sejak 1982 ini. Itulah
mengapa saya tak cukup sekali mengunjunginya. Kali ini saya akan berbagi
pengalaman meng-explore keindahan Bromo bersama Indonesia Discoverer.
Sore pulang kerja, salah satu rutinitas saya adalah
membiarkan mata menjaring deretan notifikasi Instagram. Selain likes, komentar, dan followers baru (atau yang menghilang), tak
jarang mention atau tag dari akun lain cukup menyedot
perhatian. Jempol tangan kanan seolah dituntun untuk mengecek sebuah post tanpa menunggu lama. Begitu juga
yang terjadi sore itu. Nurdiansyah, murid saya yang kini telah resmi berseragam
polisi dan bertugas di Polda Jatim, menyebut akun Instagram saya dalam caption fotonya. Dia juga menandai saya
dalam post itu.
2015 merupakan tahun kedua saya menekuni ketertarikan akan fotografi
dan traveling, kemudian mendokumentasikannya melalui blog ini. Alhamdulillah, sepanjang
2015, Allah menganugerahkan kesempatan untuk saya melangkah lebih jauh, melihat
lebih banyak, dan mendengar lebih luas tentang alam dan isinya ini.
Di penghujung 2015, saya
ingin mengulas kembali sejumlah destinasi yang saya kunjungi sepanjang tahun
ini. Harapan saya, pengalaman saya bermanfaat untuk teman-teman yang ingin
mengunjunginya juga. Tulisan ini adalah bagian pertama rekap 2015 saya, berisi 21
destinasi yang saya datangi di Gresik
dan Yogyakarta. Bagian kedua akan saya publish
minggu depan.
Hari kedua saya di Yogyakarta tepat di hari pertama tahun
2015. Pagi yang cerah tak saya sia-siakan. Ada beberapa destinasi yang saya
ingin kunjungi hari itu. Dengan motor sewaan (Mas Toro 085726153456), saya dan
istri meluncur dari penginapan di kawasan Jl Malioboro menuju objek pertama, Gunung
Merapi. Jalanan yang sepi lancar membuat kami menikmati perjalanan menuju
kawasan Kaliurang. Di Kaliurang km 13, kawan kami, Dede Sunarya, sudah
menunggu. Setelah bertemu, kami pun tancap gas menuju Tlogo Putri Kaliurang,
tempat start lava tour Gunung Merapi.
Namanya Pak
Syukron. Usianya sekitar 40 tahun. Beliau adalah salah satu dari ratusan penambang
belerang (sulfur) di Kawah Ijen, perbatasan Banyuwangi-Bondowoso. Aku
mengenalnya saat hendak turun ke Kawah Ijen, Sabtu 25 Oktober 2014. Saat itu beliau
menawarkan jasa sebagai pemandu. “Untuk
mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, pengunjung dilarang turun ke
kawah sendirian, Mas. Harus ada pemandu,” ujarnya.
Siapa yang tak pernah mendengar kebesaran nama Kawah Ijen atau Ijen Crater? Akhirnya, aku berada di tempat ini! Itu rasanya seperti berhasil mengalahkan diri sendiri. Maklum, perjuangan menuju puncak gunung yang terletak di perbatasan Bondowoso-Banyuwangi ini bukan hal kecil untuk aku yang baru dua kali ini naik gunung. Hehe.




_wm.jpg)
_1_wm.jpg)