Masih di
hari ketiga trip saya di Yogyakarta, 2 Januari 2015, destinasi berikutnya adalah
Pantai Drini. Tidak sulit menemukan pantai ini. Letaknya sangat dekat dengan
perkampungan penduduk di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul,
yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan. Seperti lokasi sebelumnya yang saya
datangi, Pantai Ngandong, saya tak perlu membayar tiket masuk lagi, cukup
ongkos parkir.
Love at the first
sight! Tidak berlebihan jika itulah yang saya rasakan saat pertama kali
melihat Pantai Ngandong. Garis pantai, pasir, gradasi warna air, ombak, dan
bebatuan karangnya membuat saya berdecak kagum. Tanpa sadar, saya menghabiskan
banyak waktu untuk meng-explore
setiap sisi pantai yang masih terjaga kebersihannya ini.
Hari ketiga di Yogyakarta, 2
Januari 2015, saya menjelajahi Gunungkidul. Sudah lama saya dengar salah satu
kabupaten di Provinsi DIY itu memiliki banyak destinasi cantik, mulai air
terjun, pantai, gua, dan perbukitan. Dengan bantuan dua kawan saya di
Yogyakarta, Dede Sunarya dan Ryo Rebi, saya menyusun rute mulai air terjun, pantai, hingga candi. Lokasi pertama yang
kami kunjungi adalah Air Terjun Sri Gethuk. Objek yang juga dikenal dengan nama
Air Terjun Slempret dan Air Terjun Sompret ini terletak di Dusun Menggoran,
Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul.
Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta memang benar-benar daerah istimewa. Bukan hanya potensi wisata yang
bertebaran di lima kabupatennya. Tak jarang lokasi wisata itu berdekatan. Pantai
Parangtritis di Kabupaten Bantul, misalnya, berdekatan dengan Bukit
Parangendog, Pantai Parangkusumo, Pantai Depok, dan Gumuk Pasir. Saat ada
kesempatan ke Bantul, saya pun ingin membunuh rasa penasaran dengan mengunjungi
objek-objek tersebut.
Berfoto di tempat ekstrem,
rupanya, kini menjadi trend di media sosial. Lihat saja, banyak yang gemar berfoto
di ujung tebing, di tepi kawah, di bibir jurang, atau di atas pohon. Yang
jelas, semua berhubungan dengan ketinggian. Nah, kalau Anda ingin uji nyali
seperti itu, datanglah ke Bukit Parangendog, Yogyakarta. Saya, istri, dan kawan
kami, Dede Sunarya, sudah mencobanya persis di hari pertama tahun 2015.
Hari kedua saya di Yogyakarta tepat di hari pertama tahun
2015. Pagi yang cerah tak saya sia-siakan. Ada beberapa destinasi yang saya
ingin kunjungi hari itu. Dengan motor sewaan (Mas Toro 085726153456), saya dan
istri meluncur dari penginapan di kawasan Jl Malioboro menuju objek pertama, Gunung
Merapi. Jalanan yang sepi lancar membuat kami menikmati perjalanan menuju
kawasan Kaliurang. Di Kaliurang km 13, kawan kami, Dede Sunarya, sudah
menunggu. Setelah bertemu, kami pun tancap gas menuju Tlogo Putri Kaliurang,
tempat start lava tour Gunung Merapi.
Jika Anda tertarik dengan situs bersejarah dan sedang berkunjung
ke Yogyakarta, jangan lewatkan Taman Sari. Sebab, Taman Sari kabarnya telah
dinobatkan sebagai cagar budaya ke-19 di dunia. Taman Sari terletak tak jauh
dari Keraton Yogyakarta. Saya hanya membutuhkan waktu sekitar 8 menit naik
becak. Sebenarnya, jalan kaki juga bisa, tetapi kaki saya waktu itu sudah agak berat
dipakai jalan setelah menjelajahi Museum Benteng Vredeburg dan KeratonYogyakarta, di hari pertama trip Yogyakarta, 31 Desember 2014.
Setelah puas mengitari Museum Benteng Vredeburg, tujuan saya
berikutnya adalah Keraton Yogyakarta. Cukup berjalan kaki sekitar 10 menit, saya
sudah sampai di pusat peradaban Yogyakarta yang dibangun pada tahun 1775 oleh
Sri Sultan Hamengku Buwono I ini. Sebenarnya banyak bapak pengayuh becak yang
menawarkan jasa dengan tarif Rp 10-5 ribu. Namun, kaki saya masih kuat untuk
jalan. Hehehe. Selain itu, di sepanjang perjalanan saya bisa melihat lebih detail
ikon Yogyakarta lainnya, misalnya Istana Kepresidean Yogyakarta (Gedung Agung),
tugu batik, titik nol kilometer di sekitar Kantor Pos Besar Yogyakarta, monumen
berbentuk hati yang mulai ramai dengan gembok cinta, dan museum kereta.
Libur akhir dan awal tahun lalu saya agak nekat berangkat ke
Yogyakarta. Mengapa agak nekat? Ya, benar, pasti semua objek wisata sedang
padat pengunjung dan hujan bisa turun kapan saja. Tetapi, karena hari libur
saya memang waktu itu, ya sudahlah, saya berangkat dengan berdoa semoga semua
berjalan seperti yang diharapkan. Saya tiba di Kota Gudeg Selasa malam, 30 Desember
2014, dan pulang Sabtu, 3 Januari 2015. Sejumlah destinasi saya kunjungi dan
saya tulis di blog ini satu per satu. Semoga bermanfaat.
.jpg)

.jpg)






