Objek apa yang wajib dikunjungi di
Kuala Lumpur? Setiap saya melempar pertanyaan ini ke teman-teman yang tinggal
di sana, salah satu jawaban yang selalu ada adalah Dataran Merdeka. Mereka
bilang, sebenarnya Dataran Merdeka biasa saja, tetapi beberapa bangunan penting
di sekitarnyalah yang istimewa. Demi membuktikan rekomendasi kawan-kawan saya,
suatu sore selepas diklat di University of Malaya saya meluangkan waktu seorang
diri mendatangi kawasan serupa alun-alun yang berjarak tempuh sekitar 15 menit
dari hotel saya di Berjaya Times Square.
Setelah melewati kawasan museum, saya lanjut
jalan kaki ke area lainnya. Lokasi berikutnya ini adalah runtuhan Gereja St.
Paul. Untuk menuju bangunan peninggalan Portugis yang dibangun pada 1521 ini,
kami harus menaiki anak tangga menunju puncak bukit. Untungnya, bukit ini
rindang dengan beberapa pohon tinggi yang memayungi jalan. Begitu sampai puncak
bukit, tampak bangunan tua yang tak lagi beratap. Dinding tingginya masih kokoh
meskipun dengan pintu dan jendela yang terbuka.
Sabtu kedua telah tiba. Tak seperti Sabtu
pertama yang dihabiskan bersama ke Batu Caves dan Genting Highlands, kali ini
peserta diklat di University of Malaya sepakat jalan sendiri-sendiri. Saya dan
rekan sekamar, Pak Zuhri (SMAN 2 Boyolali, Jawa Tengah), memilih melancong ke
Melaka. Banyak kawan travel blogger yang merekomendasikan kota ini jika
ingin melihat sisi lain Malaysia. Mereka bilang, kota ini merupakan salah satu
destinasi yang sayang jika dilewatkan.
Setelah puas berkeliling di Batu Caves, kami
bergegas menuju bus persiaran untuk melanjutkan perjalanan ke Genting Highlands
(dalam bahasa Melayu disebut Tanah Tinggi Genting) yang berlokasi di Pahang. Jam
menunjukkan pukul 10.00. Kami tak mau terlalu siang lagi karena kabarnya untuk
sampai di Genting kami membutuhkan waktu sekitar satu jam atau 33 km perjalanan.
Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Sebuah kesempatan
istimewa dipercayakan kepada saya. Kali ini saya mendapat peluang untuk
meningkatkan kompetensi sebagai guru dalam Pelatihan Pembelajaran HOTS (Higher
Order Thinking Skills) dan Literasi di University of Malaya, Kuala Lumpur,
Malaysia. Saya bergabung dengan 22 guru bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang
dari beberapa provinsi di Indonesia.





