Bangunan-bangunan peninggalan zaman penjajahan di Indonesia
umumnya didirikan pada masa pemerintahan Belanda atau Jepang. Namun, tahukah kalian,
ternyata ada juga bangunan yang diwariskan oleh Inggris. Namanya Fort
Marlborough. Benteng yang dikabarkan terbesar di Asia itu hingga kini masih
berdiri megah serta menjadi salah satu objek wisata dan penelitian sejarah di
Bengkulu. Hebatnya, sebagian besar sisi bangunan benteng berarsitektur khas
abad ke-17 ini masih asli, tidak mengalami renovasi signifikan.
Seberapa kenal kalian dengan sosok Soekarno? Jujur saja, saya
hanya tahu sepak terjang presiden pertama Republik Indonesia ini di ranah
politik. Serba-serbi kehidupan pribadinya bukan tak menarik. Saya saja yang tak
banyak membaca. Namun, kunjungan ke Bengkulu membuka mata saya tentang kisah di
balik tirai rumah tangga Soekarno. Nama demi nama ternyata menorehkan sejarah
dalam sisi lain kehidupan sang Proklamator.
Setelah berkunjung ke Bengkulu, saya baru sadar, provinsi ini kaya
akan bukti sejarah. Selain tempat-tempat penuh history, kota ini juga memiliki barang-barang peninggalan sejak
zaman prasejarah. Benda-benda adat dan budaya suku-suku setempat juga ada. Semua
tertata apik di Museum Negeri Bengkulu. Cukup satu jam kunjungan, banyak info
menarik yang saya bisa bagikan. Beberapa di antaranya adalah koleksi-koleksi
unik yang belum pernah saya lihat di museum lainnya.
Sejarah bukan hanya rangkaian peristiwa
tanpa makna
Sejarah bukan hanya cerita pengantar
tidur belaka
Sejarah selalu memberi butiran-butiran
hikmah bijaksana
Sejarah menyimpan cerminan kehidupan
anak manusia
Tersebutlah kisah penuh angkara dari
bumi Singosari
Ken Endog dan Batara Brahma menjalin
asmara tanpa ikatan resmi
Lahirlah Ken Arok, nasib malang dialaminya
ketika masih bayi
Dia dibuang di tanah pekuburan dan
ditemukan seorang pencuri
Di penghujung 2015,
saya mengulas kembali sejumlah destinasi yang saya kunjungi sepanjang tahun
ini. Harapan saya, pengalaman saya bermanfaat untuk teman-teman yang ingin
mengunjunginya juga. Tulisan ini adalah bagian kedua rekap 2015 saya, berisi 22
destinasi di Bali, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Batu, Malang, Mojokerto, dan Magetan.
Bagian pertama telah saya publish
minggu lalu.
2015 merupakan tahun kedua saya menekuni ketertarikan akan fotografi
dan traveling, kemudian mendokumentasikannya melalui blog ini. Alhamdulillah, sepanjang
2015, Allah menganugerahkan kesempatan untuk saya melangkah lebih jauh, melihat
lebih banyak, dan mendengar lebih luas tentang alam dan isinya ini.
Di penghujung 2015, saya
ingin mengulas kembali sejumlah destinasi yang saya kunjungi sepanjang tahun
ini. Harapan saya, pengalaman saya bermanfaat untuk teman-teman yang ingin
mengunjunginya juga. Tulisan ini adalah bagian pertama rekap 2015 saya, berisi 21
destinasi yang saya datangi di Gresik
dan Yogyakarta. Bagian kedua akan saya publish
minggu depan.
Salah satu cara mengenal sebuah daerah adalah melalui museumnya. Nah, jika Anda ingin mengenal sejarah Bali, datang saja ke Museum Bajra Sandhi. Museum yang juga dikenal dengan nama Monumen Perjuangan Rakyat Bali ini berdiri megah di tengah Lapangan Renon, Jalan Raya Puputan, Denpasar Timur, Denpasar. Selain hari libur nasional, Museum Bajra Sandhi dibuka setiap hari. Pada Senin-Jumat, museum dibuka pukul 08.30-17.00 WITA. Sedangkan pada Sabtu-Minggu, pengunjung bisa masuk mulai pukul 09.30-17.00 WITA.
Sore itu cuaca galau alias labil.
Beberapa menit hujan, kemudian cerah, kemudian gerimis, lalu cerah lagi. Hujan
turun saat saya dan kawan-kawan tiba di pelataran parkir Candi Ijo di Dusun
Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Untungnya,
tak lama kemudian hujan reda. Kami pun bergegas menaiki anak tangga menuju
candi bercorak Hindu ini. Dan, terasa istimewa, kami disambut pelangi.
Jika Anda tertarik dengan situs bersejarah dan sedang berkunjung
ke Yogyakarta, jangan lewatkan Taman Sari. Sebab, Taman Sari kabarnya telah
dinobatkan sebagai cagar budaya ke-19 di dunia. Taman Sari terletak tak jauh
dari Keraton Yogyakarta. Saya hanya membutuhkan waktu sekitar 8 menit naik
becak. Sebenarnya, jalan kaki juga bisa, tetapi kaki saya waktu itu sudah agak berat
dipakai jalan setelah menjelajahi Museum Benteng Vredeburg dan KeratonYogyakarta, di hari pertama trip Yogyakarta, 31 Desember 2014.
Setelah puas mengitari Museum Benteng Vredeburg, tujuan saya
berikutnya adalah Keraton Yogyakarta. Cukup berjalan kaki sekitar 10 menit, saya
sudah sampai di pusat peradaban Yogyakarta yang dibangun pada tahun 1775 oleh
Sri Sultan Hamengku Buwono I ini. Sebenarnya banyak bapak pengayuh becak yang
menawarkan jasa dengan tarif Rp 10-5 ribu. Namun, kaki saya masih kuat untuk
jalan. Hehehe. Selain itu, di sepanjang perjalanan saya bisa melihat lebih detail
ikon Yogyakarta lainnya, misalnya Istana Kepresidean Yogyakarta (Gedung Agung),
tugu batik, titik nol kilometer di sekitar Kantor Pos Besar Yogyakarta, monumen
berbentuk hati yang mulai ramai dengan gembok cinta, dan museum kereta.
Libur akhir dan awal tahun lalu saya agak nekat berangkat ke
Yogyakarta. Mengapa agak nekat? Ya, benar, pasti semua objek wisata sedang
padat pengunjung dan hujan bisa turun kapan saja. Tetapi, karena hari libur
saya memang waktu itu, ya sudahlah, saya berangkat dengan berdoa semoga semua
berjalan seperti yang diharapkan. Saya tiba di Kota Gudeg Selasa malam, 30 Desember
2014, dan pulang Sabtu, 3 Januari 2015. Sejumlah destinasi saya kunjungi dan
saya tulis di blog ini satu per satu. Semoga bermanfaat.






_1_wm.jpg)


