Thursday, 8 December 2016

GUNUNG KEMBAR ITU BERNAMA LAWANG DAN KENDIL


                                                                             
                                      
Sore pulang kerja, salah satu rutinitas saya adalah membiarkan mata menjaring deretan notifikasi Instagram. Selain likes, komentar, dan followers baru (atau yang menghilang), tak jarang mention atau tag dari akun lain cukup menyedot perhatian. Jempol tangan kanan seolah dituntun untuk mengecek sebuah post tanpa menunggu lama. Begitu juga yang terjadi sore itu. Nurdiansyah, murid saya yang kini telah resmi berseragam polisi dan bertugas di Polda Jatim, menyebut akun Instagram saya dalam caption fotonya. Dia juga menandai saya dalam post itu.

Sebuah foto pemandangan alam yang Instagrammable. Bukit berhias ilalang, berlatar belakang sawah dan pegunungan nan luas menghijau. Namun, yang lebih membuat tertarik adalah view indah itu berada di kota tempat saya tinggal. Tag satu foto itu berlanjut dengan foto-foto lainnya yang dikirim Nurdiansyah melalui BBM. Semakin tertariklah saya untuk melihat dengan mata kepala sendiri bukit yang berlokasi di Desa Pragelan, Kecamatan Gondang, Bojonegoro, ini. Apalagi, Nurdiansyah mengingatkan saya bahwa pemandangan mungkin akan berubah jika musim berganti. Saat itu awal musim hujan, masa para petani mulai menanam padi.

Bukit berhias ilalang, berlatar sawah dan bukit hijau (Photo by Nurdiansyah)
View yang instagrammable (Photo by Nurdiansyah)

Sayangnya, kesibukan tak memberi saya waktu yang cukup untuk meluangkan waktu. Sempat menguap, tetapi akhirnya hasrat berkunjung ke bukit itu kembali lagi. Kesempatan datang beberapa bulan kemudian saat saya bertemu Mas Reza dan Mas Johan, kawan lama semasa saya bertugas di SMAN 1 Gondang. Selain Watu Gajah di Desa Jari dan Watu Gandul di Desa Senganten, kami juga mantap mengarahkan tujuan ke Desa Pragelan. Apalagi, selain bukit yang difoto Nurdiansyah, di Desa Pragelan juga terdapat gunung kembar.

Desa Pragelan berada di kawasan tepi paling barat Kecamatan Gondang. Saya tak menyebutnya terpencil, hanya agak jauh dari desa sebelumnya. Jalan menuju ke sana telah beraspal, menembus hutan jati, sawah, dan perkebunan. Sebelum sampai di Desa Pragelan, gunung kembar itu telah terlihat. Masing-masing gunung punya nama, yaitu Gunung Lawang dan Gunung Kendil. Gunung Lawang berada di sisi utara, sedangkan Gunung Kendil berada di sisi selatan. 

Tebing Gunung Lawang nan curam
Gunung Lawang dan Gunung Kendil dilihat dari jalan menuju Desa Pragelan.
 
Ketika saya memotret Gunung Lawang dari tepi jalan ini, Mas Reza bercerita bahwa baru saja ada warga yang jatuh dari tebing gunung. Pria malang itu terpeleset saat berusaha mengumpulkan madu lebah dari ranting pepohonan di dinding tebing. Memang, Kecamatan Gondang dikenal akan potensi madu lebah hutan. Namun, saya tak mengira, ternyata ada pemburu madu yang mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan sarang lebah di tebing seterjal ini. “Saya pernah naik ke gunung ini, Pak. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di puncak, dengan beberapa kali istirahat. Dari puncak, pemandangannya indah lho,” ujar Mas Reza.

Namun, saya sedang tak tertarik naik gunung. Dan, karena dari jalan ini Gunung Lawang menutupi Gunung Kendil, saya dan Mas Reza harus melanjutkan perjalanan supaya bisa melihat dua gunung itu secara utuh berdiri berdampingan. Kabarnya, karena berdiri bersebelahan dan menyisakan ruang di antaranya, dua gunung ini seperti dua gapura yang mengapit sebuah jalan masuk. Lantaran itulah, meski kembar dan masing-masing punya nama, penduduk setempat lebih sering menyebutnya Gunung Lawang. Dalam bahasa Jawa, lawang berarti pintu atau jalan masuk.

Sebagian sawah telah habis masa panen.
Gunung kembar dari kejauhan.
Jalan terjal menuju puncak bukit.

Kami pun masuk Desa Pragelan. Saat itulah, saya ingat betul foto Nurdiansyah. Meski dia pernah memberi tahu saya rute menuju bukit itu, tetap saja saya perlu bertanya kepada warga di sana. Kami harus memarkir kendaraan di balai desa lalu berjalan kaki menuju persawahan, kemudian naik bukit. Sayang, pemandangan telah berubah. Apa yang kami lihat, tak lagi sama dengan bayangan saya. Namun, saya sudah siap untuk itu. Foto Nurdiansyah diambil beberapa bulan sebelumnya saat musim hujan. Sedangkan saya datang saat musim kemarau. Sawah-sawah itu telah mengering karena padi telah dipanen.

Gunung kembar yang menyerupai gapura
Ada perasaan hening sekejap.
Perbukitan nan eksotis.

Selanjutnya, kami mengarahkan kendaraan ke sebelah barat desa. Jalanan menanjak membawa kami ke bukit lainnya. Jalanan tak lagi rata. Bebatuan terjal menyebabkan jalan bergelombang. Sesekali kami berpapasan dengan warga yang pulang dari sawah, membawa hasil panen bawang merah. Dari puncak bukit inilah, tampak dengan jelas Gunung Lawang dan Gunung Kendil berdiri berdampingan. Meski tak tinggi, kedua gunung ini tampak menonjol karena lebih tinggi daripada gugusan perbukitan yang memanjang. 

Panorama Desa Pragelan.

Berdiri di tempat ini seolah dikelilingi perbukitan. Angin kemarau meniupkan suasana asing yang seolah menyelimuti diri sendiri. Suasana ini pun menghadirkan sebuah perasaan bernama sepi. Entah mengapa. Yang jelas, ada sebagian ruang  dalam relung hati yang hening sejenak. Mungkin ini yang disebut waktu yang tepat untuk berkontemplasi. Terima kasih, Pragelan, kau menyadarkan hati akan rasa syukur dalam diri. (*)

8 comments:

  1. Bagusnya gunung lawang,benar-benar ada rasa hening sekejap :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, Kak Imama merasakan hal yang sama ya. Hehehe.

      Delete
  2. Mantapp pak. Ternyata pak edi kesana setelah ada kejadian warga tergelincir ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, Nur.

      Terima kasih ya atas foto-foto dan "undangannya" ke Pragelan, hehe

      Delete
  3. Replies
    1. Makanya, kalau sudah sukses, buruan balik kampung. Bangun desa jadi lebih baik. Hehehe

      Delete
  4. heningnya ditemani angin yang berhe,bus :D
    tambah syahdu mas hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, begitulah, Mas.

      Untung ga sampai ngantuk.

      Delete