Saturday, 10 January 2015

BELAJAR SEJARAH DI MUSEUM BENTENG VREDEBURG



Libur akhir dan awal tahun lalu saya agak nekat berangkat ke Yogyakarta. Mengapa agak nekat? Ya, benar, pasti semua objek wisata sedang padat pengunjung dan hujan bisa turun kapan saja. Tetapi, karena hari libur saya memang waktu itu, ya sudahlah, saya berangkat dengan berdoa semoga semua berjalan seperti yang diharapkan. Saya tiba di Kota Gudeg Selasa malam, 30 Desember 2014, dan pulang Sabtu, 3 Januari 2015. Sejumlah destinasi saya kunjungi dan saya tulis di blog ini satu per satu. Semoga bermanfaat. 


Pintu gerbang
Halaman dalam
Hari pertama, Rabu, 31 Desember 2014, ditemani seorang kawan baik hati yang tinggal di Yogyakarta, Dede Sunarya, saya memulai petualangan dengan mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Kota Yogyakarta. Museum Benteng Vredeburg menjadi tujuan pertama saya karena letaknya yang paling dekat dengan tempat saya menginap di Jalan Malioboro. Pagi itu sempat hujan, tetapi kemudian mendung cerah dan membuat saya nyaman berjalan kaki menyusuri jalanan Kota Yogyakarta.

Ikon pemandu

Meriam

Museum Benteng Vredeburg berada di Jalan Ahmad Yani, Kota Yogyakarta, hanya sekitar 5 menit jalan kaki dari Jalan Malioboro. Dengan tiket masuk Rp. 2.000, pengunjung dapat merasakan atmosfer masa penjajahan Belanda. Baru masuk pintu gerbangnya saja, pengunjung sudah disambut dengan parit dan bangunan berarsitektur Belanda lengkap dengan tiang-tiang tinggi yang kokoh. 

Penjahit bendera
Belajar sejarah 1
Koleksi museum yang awalnya merupakan benteng ini pun seakan-akan membawa kita ke tahun-tahun saat Indonesia berusaha melepaskan diri dari penjajahan. Pengunjung dapat menyaksikan bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang dipugar sesuai bentuk aslinya. Terdapat pula diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan hingga masa Orde Baru. Masih ada lagi, yaitu benda-benda bersejarah, foto-foto, serta lukisan-lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan.


Belajar sejarah 2

Sisi belakang museum

Luas dan asri
Meskipun awalnya ingin berkunjung di museum ini saat sepi, saya akhirnya justru bangga tempat ini ramai pengunjung. Itu artinya masih banyak yang menghargai perjuangan pendahulu negeri ini dan belajar lebih jauh tentang sejarah Indonesia. Saya salut juga dengan keluarga yang membawa serta anak-anaknya. Sejumlah rombongan anak sekolah juga tampak asyik menjelajahi museum yang dibangun pada tahun 1765 oleh Belanda di atas lahan seluas 2.100 meter persegi ini.

Saya dan relief
Apalagi, pengelola Museum Benteng Vredeburg, tampaknya, berusaha mengikuti perkembangan zaman. Mereka kini menyediakan sejumlah monitor layar sentuh yang berisi artikel dan foto-foto sejarah Indonesia. Tentu saja para pengunjung, terutama anak-anak, makin antusias belajar sejarah. Bukan hanya itu. Untuk berbagi lebih jauh tentang museum dan sejarah Indonesia, mereka juga memiliki blog. Klik saja museumvredeburg.blogspot.com, maka informasi yang Anda butuhkan tentang Museum Benteng Vredeburg dan sejarah Indonesia pun tersaji lengkap. (*)

No comments:

Post a Comment