Friday, 17 March 2017

TERNYATA ADA PENANGKARAN RUSA DI BOJONEGORO



Siapa sangka ternyata di Bojonegoro ada sebuah penangkaran rusa. Kabar ini saya dapat tanpa sengaja ketika berkunjung ke Air Terjun KedungPeti di Kecamatan Malo. Di tepi jalan raya Kalitidu, tepat di pertigaan menuju Malo, terdapat papan informasi adanya penangkaran ini. Tertera juga jarak tempuh 4 kilometer dari pertigaan tersebut. Tentu saja saya tertarik lantaran ingin melihat dari dekat kumpulan rusa-rusa ini beradaptasi dengan cuaca Bojonegoro yang cenderung panas.

Namun, saya sempat kesulitan menemukan lokasi penangkaran ini. Beberapa warga yang saya temui di jalan malah mengaku tidak tahu bahwa di sekitar tempat mereka tinggal terdapat penangkaran rusa. Untung saya sempat baca berita online lokal bahwa rusa-rusa ini dirawat oleh petugas Perhutani. Saya yang semula bertanya soal lokasi penangkaran rusa mengubah pertanyaan menjadi di mana letak kantor Perhutani terdekat.

“Kalau penangkaran rusa, saya ndak tahu, Mas. Tapi kalau kantor Perhutani, itu Mas lurus saja, lalu pas ada pertigaan Mas belok kiri, nanti ada kantor Polsek Malo. Nah, Perhutani itu di sebelah barat Polsek,” terang sorang warga di sebuah warung makan.

Siang itu hujan turun rintik-rintik. Saya sempat ragu-ragu ketika sudah sampai di depan kantor Perhutani. Tak ada tanda aktivitas di kantor berhalaman luas ini. Namun, tak lama kemudian, saya lihat beberapa ekor rusa di balik pagar kawat di belakang salah satu bangunan Perhutani. Tanpa ragu, saya pun mencoba mendatangi sebuah bangunan yang pintunya terbuka. Saya ditemui seorang petugas bernama Pak Suryadi.

Didatangkan dari Blitar

Setelah memperkenalkan diri, saya bertanya banyak kepada Pak Suryadi seputar penangkaran rusa di sini. Dengan ramah, beliau menjelaskan bahwa rusa-rusa ini didatangkan dari Wana Wisata Maliran, Kabupaten Blitar, pada Juni 2014. Saat itu, terdapat 13 ekor rusa jantan dan betina. Kini, rusa-rusa itu telah berkembang biak dan jumlahnya bertambah menjadi 25 ekor. 

“Kelak jika populasinya meningkat terus di penangkaran ini, sebagian rusa akan dilepasliarkan di hutan jati Bojonegoro,” papar Pak Suryadi.

Lebih memilih daun dan rumput daripada wortel

Pak Suryadi pun berkenan menemani saya melihat-lihat kumpulan rusa ini. Ternyata, semua rusa ini merupakan rusa Jawa. Satwa bernama ilmiah cervus timorensis ini dulu sering dijumpai di hutan-hutan di Jawa Timur. Namun, kian lama, populasinya berkurang drastis. Perhutani pun merasa perlu melakukan upaya penangkaran untuk menyelamatkan spesies ini.

Sebenarnya, saya ingin memberi makan rusa-rusa ini. Namun, Pak Suryadi melarang. Menurut beliau, rusa-rusa ini sudah punya jadwal makan khusus, yaitu pagi dan sore hari. Pengunjung pun tidak diperbolehkan berinteraksi seperti foto bersama. Padahal, saya sempat berencana berfoto dengan rusa seperti para pengunjung penangkaran rusa di Ranca Upas, Bandung. Rupanya saya kena virus foto berbagi wortel dengan rusa di Instagram. “Maaf, Mas, hanya petugas yang boleh masuk ke kandang,” ujar beliau, ramah.

Rusa jantan bertanduk panjang, sedangkan rusa betina tidak

Rusa-rusa ini dibagi menjadi dua kelompok besar. Setiap kelompok terdiri atas beberapa jantan dan betina. Kandang mereka cukup luas dengan pembatas pagar kawat. Di dalamnya juga terdapat rumah kecil beratap untuk berlindung dari hujan. Pohon-pohon jati tumbuh subur di dalam kandang, seolah memberi kesempatan beradaptasi bagi rusa-rusa ini jika nanti dilepasliarkan di hutan jati. 

Semoga jumlahnya terus meningkat

Di akhir perbincangan, Pak Suryadi menegaskan bahwa penangkaran ini bukanlah objek wisata. Oleh karena itu, para pengunjung yang datang umumnya adalah para pelajar untuk kepentingan edukasi atau penelitian. Terima kasih, Pak Suryadi, sudah menemani dan memberikan banyak informasi. Semoga rusa-rusa ini terus berkembang biak sehingga populasinya tidak punah. (*)

18 comments:

  1. Boleh iki pak dicoba mampir kalo lewat arah malo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekalian mampir ke Air Terjun Kedung Peti. Deket kok.

      Delete
  2. wah, tapi apa gak mengkhawatirkan ya kalo sudah banyak lalu dilepaskan gt rusanya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelepasliaran prosesnya panjang Mas, mulai masa persiapan sampai pengawasan selama satwa dilepas. Tapi memang sih, ancaman terbesarnya adalah pemburu liar. Hehehe.

      Delete
  3. waaaak hebat kalo sampe di lepas liarkan, sudah seharusnya hewan2 itu kembali ke habitat aslinya. bukan di kandang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang itu tujuannya, Mas, biar populasi satwa ini terselamatkan.

      Delete
  4. waaaa aku baru tau wahahahaha. kirain Bojonegoro cuma punya kayangan api sama Dander tok :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, saya dulu jg mikir begitu. Tapi ternyata saya salah. Banyak lho objek menarik di Bojonegoro.

      Delete
    2. kalo desa wisata wonocolo itu gmn mas edy? aku pernah denger pertambangan minyak tradisional itu skrg dijadikan desa wisata

      Delete
    3. Iya, Mas, malah punya nama baru Teksas Wonocolo dengan konsep penambangan minyak tradisional. Saya belum ke sana, mungkin someday, hehe.

      Delete
    4. ditunggu mas ulasanny, nanti aku nyusul kesana wkwkwk

      Delete
  5. Sebagai warga Bojonegoro asli, saya malah baru tahu sekarang ada penangkaran rusa ini. Mantap, Pak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena bukan objek wisata, jadi penangkaran ini ga terkenal, Pak.

      Delete
  6. Kalau pengunjung nggak boleh berinteraksi sama rusanya, berarti pengelolaanya bagus :) kan mereka memang disiapkan biar bisa hidup sendiri di alam liar ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuul, Kak Fahmi. Mereka juga diberi waktu buat adaptasi sebelum dilepasliarkan.

      Delete