Thursday, 24 November 2016

WATU GANDUL JADI ALASAN BERNOSTALGIA




Berkunjung ke Kecamatan Gondang rasanya sehangat pulang ke kampung halaman.  Hutan jati sepanjang perjalanan seolah menyapa. Perbukitan dan hamparan ladang jagung tak pelak memantik kenangan. Semua seperti mengingatkan saya akan memori selama sepuluh tahun, sejak 2005 hingga 2015, melintasi jalanan berkelok ini demi bertugas di SMA Negeri 1 Gondang.

Sejak berpindah tempat tugas di SMA Negeri 1 Bojonegoro pada Juli 2015, sekali pun saya belum pernah menginjakkan kaki di Gondang. Namun, kabar seputar kecamatan di wilayah ujung selatan Kabupaten Bojonegoro ini tak pernah lepas dari pantuan saya. Salah satunya adalah mencuatnya sebuah objek wisata baru bernama Watu Gandul. Seperti dilecut, semangat saya pun membara. Tanpa pikir panjang, beberapa waktu lalu saya meluangkan waktu untuk melihat dengan mata kepala sendiri destinasi wisata baru ini.

Jalan membelah hutan jati menuju Gondang

Gayung bersambut. Mas Reza, teman lama yang bermukim di Gondang, mengundang saya untuk mengeksplor wilayahnya. Bahkan, Mas Reza dan keluarganya menjamu saya dan memberi tempat menginap di rumahnya. Saya juga bertemu dengan Mas Johan yang tak kalah baiknya dari Mas Reza. Kami sempat beristirahat dan bersantap siang di rumah Mas Johan. Lantaran sudah tahu kebiasaan saya, Mas Reza dan Mas Johan juga mengantar saya mengunjungi Watu Gandul. Sebagai bonus, kami juga mendatangi Watu Gajah dan Gunung Lawang. 

Watu Gandul berlokasi di Dusun Kaliasin, Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang. Tak sulit menemukan objek ini. Jika tersesat, silakan saja bertanya kepada warga setempat. Mereka pasti dengan senang hati menunjukkan arah. Watu Gandul terpisah dari pemukiman penduduk, tepatnya berada di areal ladang jagung yang pada musim tertentu menjadi lahan pertanian padi atau bawang merah. Pemerintah Desa Sambongrejo telah memasang papan nama di dekat areal perkebunan tersebut. Tertera tulisan Wagan, akronim dari Watu Gandul.

Bebatuan andesit bertebaran di lahan perkebunan menuju Watu Gandul.
Bebatuan pun tampak di ladang bawang merah.

Kendaraan harus diparkir di dekat tulisan itu. Sebab, jalan setapak menuju Watu Gandul hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jangan iri kepada warga setempat yang bersepeda motor menuju Watu Gandul. Mereka telah terlatih mengendarai motor di lahan berbatu. Namun, dengan berjalan kaki, saya justru bisa menikmati pemandangan yang tersaji. Ratusan batu andesit bertebaran di lahan perkebunan ini. Ukurannya beragam, dari yang kecil hingga sangat besar. Warnanya hitam, dengan tekstur permukaan menyerupai batu sungai. Menurut Mas Johan, Pemerintah Desa Sambongrejo telah lama berupaya mencegah upaya eksploitasi batu-batu andesit itu. 

Kumpulan bebatuan raksasa dililit akar pepohonan.
Batu ini menggantung di antara dua batu yang tak kalah besar.

Setelah sekitar 15 menit berjalan kaki, sampailah kami di Watu Gandul. Ternyata Watu Gandul adalah kumpulan batu berukuran raksasa yang diperkirakan muntahan letusan Gunung Pandan di Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro. Bebatuan itu tersusun dalam tumpukan tak beraturan. Lantaran sudah ratusan tahun berada di sana, bebatuan ini pun terlilit akar pohon yang tumbuh rindang di sekitarnya. Tinggi tumpukan batu super besar ini mencapai 50 meter. 

Ketinggian Watu Gandul mencapai 50 meter.
Ada yang percaya "gua" di dalam Watu Gandul pernah menjadi tempat bertapa.
Rasa penasaran pun kian menggelitik. Saya mendekati salah satu sisi Watu Gandul. Terdapat sebuah batu yang sangat besar berbentuk bundar, diapit dan disangga dua batu lainnya yang tak kalah besarnya. Rupanya, inilah cikal bakal lokasi ini bernama Watu Gandul. Dalam bahasa Jawa, watu berarti batu, sedangkan gandul bermakna menggantung. Batu bulat besar itu seolah menggantung di antara dua batu yang mengapitnya. Celah di bawah batu itu pun serupa gua. 
 
Sayangnya, ukuran badan saya terlalu lebar untuk menyelinap di antara celah itu. Mereka yang bertubuh lebih tipis bisa masuk ke bagian dalam Watu Gandul. Tak mau hanya diam di satu titik, saya pun berputar ke sisi lain Watu Gandul. Tak disangka, di sisi yang berbeda, terdapat “pintu” yang lebih lebar. Hampir sama dengan “pintu” pertama, di sini juga terdapat dua batu raksasa yang ujungnya mengapit sebongkah batu besar. Bedanya, di atas dua batu besar itu, terdapat sebongkah batu yang juga berukuran besar. Dari sini, saya bisa masuk ke bagian dalam Watu Gandul. Wujudnya mirip rumah batu yang gelap. 

Mas Johan dan Watu Gandul.
Saya pun merasa perlu mengabadikan diri.
Selanjutnya, saya dan beberapa pengunjung lain naik ke bagian atas Watu Gandul. Kami mendaki bebatuan besar itu. Akar-akar pohon yang melilit Watu Gandul pun bisa dijadikan sebagai pegangan. Bagian atas Watu Gandul dipayungi ranting dan dedaunan rimbun pohon, adem. Semilir angin lumayan membantu mengeringkan keringat di kening dan leher. Permukaan bebatuan ini berbentuk lempengan. Bukan hanya duduk-duduk, tiduran pun cukup nyaman.  Pandangan mata pun menyapu sekeliling Watu Gandul. Perkebunan nan luas berlatar Gunung Pandan dan Gunung Lawang cukup menarik untuk dinikmati. 

Watu Gandul, semoga kau lestari.

Berkunjung ke Watu Gandul sangat tepat untuk wisata edukasi tentang batu andesit. Pengunjung bisa melakukan penelitian tentang geologi atau sejarah. Sebagai bonusnya, tracking menuju lokasi juga menyehatkan. Jadi, tak ada ruginya meluangkan waktu untuk menyaksikan fenomena alam ini. Supaya objek unik ini lestari, hindari buang sampah dan corat-coret sembarangan. (*)


2 comments:

  1. Itu bebatuan kelihatannya agak misterius yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada yg bilang sempat jadi tempat bertapa, Mas. Hehehe.

      Delete