Saturday, 7 May 2016

BUKIT WATU LAWANG: SEKALI DAKI, EMPAT AIR TERJUN TERSAJI




Kesan saya tentang Nganjuk selama ini ternyata salah besar. Beberapa kali mendatangi kota dan sejumlah kecamatan, kesan saya, kota berjuluk Kota Angin itu bercuaca panas. Ternyata, ada satu kecamatan di sana yang berudara sejuk. Namanya Kecamatan Sawahan. Berada di lereng Gunung Wilis, Kecamatan Sawahan memiliki sejumlah destinasi wisata alam seperti bukit, air terjun, dan persawahan. Kamis, 5 Mei lalu, saya menghabiskan waktu seharian untuk mendatangi lima objek menarik di sana. Kali ini, saya akan mengulas Bukit Watu Lawang.



Panorama alam persawahan dan sungai yang berpadu dengan bukit-bukit hijau memanjakan mata sejak saya memasuki kawasan Kecamatan Sawahan. Sampai di Desa Ngliman, jalan menanjak. Udara sejuk pun menerpa kulit. Kabut putih tampak menyelimuti bukit-bukti di lereng Gunung Wilis. Sinar matahari yang cerah sama sekali tak terasa panas. Apalagi, sepanjang jalan, pohon-pohon rindang memayungi perjalanan saya. Pemandangan dan cuacanya hampir menyerupai Kota Batu. Lokasi seperti inilah yang membuat saya betah berlama-lama menghabiskan waktu.


Goa Ndalem, terlihat dari jalan menuju Desa Ngliman.
Panorama sepanjang perjalanan
 
Makin lama, jalan benar-benar menanjak dan motor pun merambat pelan. Tak sedikit imbauan di sana untuk para pengendara motor agar mengendarai motor dengan persneling gigi 1 saja. Sejumlah tukang ojek tampak siap siaga di beberapa titik, menyediakan jasa bagi para pengunjung yang mengalami masalah dengan motornya. Untungnya, motor saya kuat menanjak hingga puncak. Di pintu masuk objek wisata Air Terjun Sedudo, saya menyempatkan diri berbicang dengan petugas tiket.

Berbekal informasi dari Instagram, saya menanyakan letak Bukit Watu Lawang. Dengan cepat, petugas berseragam batik itu menunjukkan arah menuju bukit yang saya tuju. Menurut dia, baru saja dibuka akses jalan sepanjang sekitar 300 meter menuju puncak bukit itu. Dia menyarankan saya memarkir motor di dekat petugas berjaga. Tanpa pikir panjang dan buang waktu, saya bergegas mendaki bukit di sisi kiri jalan. Jalan tanah setapak terlihat memang baru dibuat. Tampak di beberapa bagian, batu-batu yang dipasang di tepi jalan untuk menguatkan tanah.

Jalan setapak menuju puncak Bukit Watu Lawang

Empat air terjun menyembul dari rerimbun bukit hijau.

Udara sejuk datang bersama angin sepoi.
 
Menembus hutan pinus, saya sangat menikmati angin sejuk yang kadang menerpa. Jalan berkelok seolah mengajak saya melihat semua sisi bukit. Sebatang pohon kayu putih menarik perhatian saya. Saya petik beberapa lembar daun, lalu meremasnya. Aroma harum khas minyak kayu putih pun menemani perjalanan saya. Bebatuan besar berwarna hitam mulai tampak menjelang puncak. Batu-batu dengan permukaan bertekstur halus itu bisa jadi tempat duduk dan beristirahat untuk mengatur napas yang mulai tersengal.

Setelah napas kembali teratur, tracking pun berlanjut hingga sampailah saya di puncak Bukit Watu Lawang. Dari sana, view hijau terhampar luas. Di sisi barat tampak hutan beragam pohon rimbun dan perkampungan penduduk. Di sisi timur, hutan pinus terlihat eksotis lantaran ujung-ujungnya yang berjajar rapi, dilatarbelakangi perbukitan berselimut kabut putih. Nah, yang istimewa, di sisi selatan bukti, tampak empat air terjun yang menyembul dari balik hijau perbukitan. Tiga air terjun berada di sebelah kiri, satu air terjun lainnnya berada di sebelah kanan. Salah satunya adalah Air Terjun Sedudo.

View dan suasana sungguh membuat betah.
Tak menyesal datang ke bukit ini.

Air terjun di tengah itu adalah Air Terjun Sedudo

Meski tampak hanya segaris karena berada di kejauhan, panorama ini sungguh memukau. Bagaimana tidak? Hanya sekali mendaki bukit, kita disuguhi empat air terjun sekaligus. Bukan hanya itu. Perbukitan yang masih rimbun dan hijau oleh pepohonan tampak menyegarkan mata. Kabut putih berarak menutupi puncak perbukitan, padahal hari telah siang. Udara sejuk terbawa oleh angin sepoi yang berembus pelan. Awan kerap memayungi bukit sehingga panas matahari tak menyentuh kulit.

Puncak Bukit Watu Lawang tidaklah luas. Hampir tak ada lahan kosong karena puncak bukit berketinggian sekitar 1.500 mdpl ini ditumbuhi semak dan tamanan perdu. Batu-batu beragam ukuran bertebaran. Kata seorang ibu pemilik warung di dekat loket tiket, puluhan tahun lalu, bukit ini adalah jalan menuju Air Terjun Sedudo, sebelum pemerintah membangun jalan utama. Itulah sebabnya bukit ini dinamai Watu Lawang yang berarti batu pintu. Namun, kini sama sekali tidak ada tanda-tanda jalan menuju air terjun di atas bukit ini. Saat saya mencoba menyibak semak menuju ujung bukit yang kian menyempit, yang ada adalah rimbun pepohonan dan semak belukar.
Pucuk-pucuk pinus memesona saya.
Belum banyak yang datang untuk menyaksikan keindahan ini.
Puncak bukit dipenuhi semak dan tanaman perdu.

Dahulu ini merupakan jalan menuju Air Terjun Sedudo.
Kabut putih menyelimuti bukit.
Panorama yang mampu memanjakan mata.
Perbukitan di lereng Gunung Wilis.


Tampaknya, belum banyak yang mengetahui keindahan view dari puncak Bukit Watu Lawang ini. Buktinya, pengunjung umumnya hanya menikmati Air Terjun Sedudo. Tak banyak yang memilih meluangkan waktu mendaki bukit. Siang itu, hanya ada saya dan empat pengunjung lain. Bagi saya, ini justru kabar gembira. Sebab, saya bisa menjelajahi bukit ini dengan leluasa. Untuk yang tertarik datang ke tempat yang masih bersih ini, tolong bantu merawatnya hanya dengan tidak mencorat-coret batu dan membuang sampah. (*)

11 comments:

  1. Pak harga kameranya berapa ya? Hehehee.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha, murah kok, Do. Dulu waktu baru beli 3,750,000. Sekarang pasti sudah anjlok harganya.

      Delete
    2. Hehehe, gak jadi beli deh. Pinjem pak edy aja. Heheje

      Delete
    3. Boleeeh. Cukup Rp 49.500/jam. Hehehe

      Delete
    4. Heheh,nyewa seminggu sudah bisa buat beli baru pak. Hehehe

      Delete
  2. Mana g ada Pak Edy 😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabaar, Feri, Pragelan masih nunggu giliran buat dipublish. Hehehehe.

      Delete
  3. ulas kebun teh jamus ngawi bapak...butuh referensi mau kesana hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa ke sana segera, Pak. Hehehe

      Delete
  4. wah bisa jadi referensi nih kalo ke nganjuk

    ReplyDelete