Thursday, 7 April 2016

BERBURU SUNSET DI BOJONEGORO



Detik-detik matahari menghilang di balik cakrawala ufuk barat tak jarang memberi nuansa syahdu tak terlupa. Semburat jingga di langit senja menggoreskan suasana yang berbeda. Meski tak lama, hadirnya mampu mengundang pesona. Itulah mengapa tak sedikit penikmat senja yang meluangkan waktu khusus untuk menikmatinya di tempat yang indah. Pantai kerap menjadi pilihan utama.

Saya tinggal di sebuah kota tak berpantai bernama Bojonegoro. Namun, saya tak risau. Bukankah yang akan kita lihat adalah matahari yang sama? Di belahan dunia mana pun matahari itulah yang akan tenggelam. Asal kita menemukan dataran bebas pandang hingga garis cakrawala, suasana syahdu senja akan hadir di depan mata. Itu pulalah yang saya lakukan jika ingin mengabadikan sunset dengan lensa kamera.

Sunset di Jembatan Kaliketek
Sunset di Jembatan Kaliketek di lain hari
Salah satu lokasi yang kerap menjadi pilihan saya adalah Sungai Bengawan Solo. Sungai yang membelah kawasan utara Kota Bojonegoro ini melintang ke arah barat dan timur. Memang, sungai yang menjadi penanda batas wilayah Bojonegoro-Tuban ini berkelok-kelok. Di beberapa titik, langit sore hanya menyuguhkan warna jingga. Namun, pada titik tertentu, matahari senja tepat berada di ujung barat sungai. 

Untunglah, ada Jembatan Kaliketek yang bisa menjadi tempat saya berpijak untuk menikmatinya. Dari atas jembatan yang menghubungkan Kota Bojonegoro dan Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, ini, saya disuguhi pemandangan sang raja siang yang pelan-pelan tenggelam. Beda hari, berbeda pula sunset yang tersaji. Gumpalan awan dan semburat warna langitnya tak sama. Itu artinya, refleksi di air sungai pun berbeda.

Penyeberangan ke Kecamatan Trucuk

Sunset di kebun tebu

Pada musim kem arau, ketika air Sungai Bengawan Solo mulai surut, warga memasang jembatan penyeberangan darurat. Jembatan yang terbuat dari anyaman bambu ini menghubungkan Kota Bojonegoro dengan Kecamatan Trucuk. Lokasi ini juga menjadi tempat favorit saya untuk mengabadikan sunset. Memang, matahari tak terlihat karena di wilayah ini sungai ini berkelok. Namun, warna langitnya tetap memukau. Sepeda atau motor warga yang melintasi jembatan pun menjadi aksen human interest dalam foto saya.

Suatu sore saya juga mencoba berburu sunset ke Taman Tirtawana di kawasan Kecamatan Dander. Lokasi yang terdiri atas kolam renang, lapangan golf (sayang tak terpakai), dan hutan kecil ini pun memiliki beberapa areal terbuka untuk membidik matahari tenggelam. Matahari bulat tampak dramatis saat berpadu dengan reranting pepohonan. Jujur saja, ada kepuasan tersendiri saat matahari sebagai objek utama foto saya tampak bulat sempurna.

Sunset dengan hiasan ilalang
Lokasi sunset ini adalah persawahan

Sepanjang perjalanan Kota Bojonegoro menuju Kecamatan Dander, terhampar sawah dan kebun. Sesekali saya juga meng-capture momen sunset di persawahan dengan ilalang atau daun pepaya sebagai pemanis. Kebun tebu juga tak ketinggalan menjadi lokasi yang unik. Matahari sore seolah terselip di antara daun-daun tebu yang menjulang. 

Mampukah kita menutup senja hidup dengan indah?

Sekali lagi, sunset bisa ditemukan di mana saja. Bojonegoro yang tak berpantai pun memiliki sejumlah tempat yang menyuguhkan sunset saat senja menjelang. Namun, ada yang jauh lebih penting dari itu. Keindahan panorama matahari yang pulang ke peraduan juga memberi pelajaran berarti bagi saya. Bahwa, hidup pun akan berakhir. Sudah siapkah kita meninggalkan dunia ini dengan cara yang indah? (*)

6 comments:

  1. keceeee badai foto-fotonya mas

    salam kenal

    www.bukanrastaman.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya, Mas Wahyu.

      Terima kasih juga sudah berkunjung. Salam kenal

      Delete
  2. Jadi pengen Beli kamera. Terus berguru ke pak edy 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beli kamera? Baguuuus. Berguru ke saya? Nanti dulu. Saya juga baru belajar.

      Delete