Sunday, 10 January 2016

MENIKMATI DUA SPOT COBAN SEWU, MALANG DAN LUMAJANG



Sejak foto dan video Coban Sewu tersebar di media satu tahun lalu, sejak itu pula hasrat saya seolah tak terbendung untuk datang dan menyaksikan sendiri keindahannya. Sebab, menurut saya, air terjun yang juga dikenal dengan nama Tumpak Sewu ini istimewa, tak seperti air terjun-air terjun lain yang pernah saya datangi. Alhamdulillah, kesempatan itu datang di penghujung Desember 2015. Meski tersiar kabar medan menuju Coban Sewu sangat ekstrem, saya yang hanya berdua dengan istri sama sekali tak ragu. 


Kami berangkat dari Kota Malang sekitar pukul 07.00. Berbekal informasi tentang lokasi dan rute Coban Sewu, kami memacu kendaraan ke arah Lumajang. Sebab, yang kami tahu, Coban Sewu berada di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang. Sepanjang perjalanan, kami selalu membaca petunjuk arah atau bertanya untuk memastikan bahwa kami berada di jalur yang tepat menuju Lumajang. Beberapa kecamatan di Kabupaten Malang yang kami lalui adalah Bululawang, Dampit, dan Ampelgading. 

Kami sangat menikmati perjalanan pagi itu. Panorama sawah hijau, sungai, bukit, dan Gunung Semeru yang menjulang gagah menjadi hiburan tersendiri. Bahkan posisi Gunung Semeru seolah menjadi titik tuju kami karena selalu tampak berada di depan kami. Udara sejuk dan keramahan warga menjadikan kami merasa masih berada di daerah sendiri. Ya, kami memang beberapa kali beristirahat sambil membeli sesuatu dan bertanya kepada warga yang kami temui di jalan. 

Setelah kami menempuh jarak sekitar 70 km, mata saya berbinar karena tampak banner informasi bahwa lokasi Coban Sewu tinggal 500 meter, 250 meter, kemudian 100 meter lagi. Saya sempat ragu karena kami belum keluar dari Kabupaten Malang. Namun, seorang bapak yang mengatur lalu lintas di jalan menuju Coban Sewu meyakinkan saya bahwa saya telah berada di lokasi yang saya tuju. Kami pun masuk jalan kampung menuju sebuah tempat parkir yang cukup luas. Bukan hanya motor dan mobil, bus pun tampaknya muat diparkir di sini. Warga telah melengkapi tempat parkir itu dengan musala, warung-warung, kamar mandi, dan toilet.

Ternyata, kami berada di spot untuk menikmati Coban Sewu dari sisi Kabupaten Malang, tepatnya di Dusun Jagalan, Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading. Ini adalah desa terakhir di Kabupaten Malang sebelum masuk ke Kabupaten Lumajang. Spot lainnya terdapat di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Karena sudah berada di spot pertama, kami memutuskan mendapatkan view Coban Sewu di sini. Setelah membeli tiket Rp 5.000 per orang, kami menyusuri jalan setapak di antara kebun warga. Kata petugas, kami harus berjalan kaki sekitar 500 meter. 

View pertama
Coban Sewu, disebut juga Tumpak Sewu
Baru sekitar 100 meter perjalanan, kami sudah disuguhi view Coban Sewu dari atas. Kami berdiri takjub di tepi tebing dengan pengaman pagar bambu itu. Ini benar-benar bukan air terjun biasa. Sumber air berderet sepanjang tebing yang berbentuk lengkungan nan indah dan megah. Air terjun setinggi 180 meter ini dihiasi tumbuhan-tumbuhan hijau yang menempel di dinding tebing yang berwarna kecokelatan. Suara deru air terjun yang memecah kesunyian seolah mengundang saya untuk turun tebing dan merasakan perciknya. 

Dan, kami pun tergoda. Niat awal kami hanya menyaksikan Coban Sewu dari ketinggian karena medan menuju dasar tebing sangat ekstrem. Sontak kami berubah pikiran. Entah keberanian dan semangat dari mana yang membuat istri saya juga yakin turun tebing. Yang jelas kami kemudian menuruni anak tangga tanah. Tak disangka, tangga tanah itu hanya menemani kami beberapa meter. Selanjutnya kami harus menapaki tangga bambu di dinding tebing yang curam. 

Beberapa titik telah ditutup demi keamanan
Sumber air deras tak terbendung
Sempat olahraga jantung saat pertama kali kaki menginjak anak tangga itu. Sebab, jurang terbentang tepat di depan mata. Sebagian tangga landai, sebagian lagi tegak di dinding tebing. Namun, dengan posisi badan menghadap dinding tebing dan kedua tangan berpegangan tali di sisi kanan dan kiri, lama-lama kami terbiasa. Justru kami merasa tenaga kami tak terlalu terkuras karena kedua tangan ikut menyangga berat tubuh. 

Uniknya, selain tali tambang, di tangga itu juga terdapat rotan yang sangat panjang. Rotan itu tumbuh liar dan oleh warga dimanfaatkan juga sebagai pegangan sepanjang tangga.  Tangga ini hanya cukup untuk satu orang naik atau turun. Untungnya, ada beberapa titik untuk kami beristirahat dan berganti ke tangga berikutnya. Di titik peristirahatan itulah kami dan pengunjung yang naik bergantian memberi kesempatan. 

Tangga bambu sepanjang tebing
Bagian tangga yang menantang nyali
Salah satu titik peristirahatan yang menurut saya istimewa adalah bagian tepi tebing dengan view Coban Sewu tepat di depan mata. Apalagi, saat itu kami disuguhi pelangi yang mempercantik air terjun. Tepat di sisi kanan tebing itu terdapat pohon rindang. Kami duduk di bangku bambu di bawahnya dengan pengaman pagar bambu. Menoleh ke arah berlawanan dari air terjun, pemandangan dua tebing tinggi yang terbelah sungai kecil menjadi daya pikat tersendiri.

Sesaat kemudian, kami melanjutkan perjalanan, menuruni tangga bambu. Kami tak sempat menghitung berapa puluh atau ratus anak tangga yang kami lalui. Yang jelas, begitu sampai di dasar tebing, perasaan lega bercampur tak sabar segera melihat air terjun Coban Sewu dari bawah. Sebab, pandangan kami terhalang tebing tinggi. Kami pun menyusuri sungai, melawan arus. Bebatuan di dasar sungai ini tak licin sehingga kami tak kesulitan menyusuri atau menyeberangi sungai. Hanya, arusnya yang deras mengharuskan kami berhati-hati dan saling berpegangan. 

Kesempatan langka, pelangi
Pelangi yang mempercantik air terjun
Saya dan Coban Sewu di titik peristirahatan yang menurut saya istimewa
Pemandangan tebing di depan Coban Sewu
Sekitar lima menit kemudian, Coban Sewu pun terbentang gagah di depan mata. Dari ujung kanan ke ujung kiri tebing, sumber air mengalir deras. Bukan hanya dari puncak air terjun, melainkan juga dari tengah dan dasar tebing. Sumber air seperti ada di mana-mana. Itulah mengapa air ini disebut Coban Sewu. Coban berarti air terjun, sedangkan sewu berarti seribu, sebagai kiasan karena sangat banyaknya sumber air yang ada. Airnya pun jernih dan dingin.

Percik-percik air terjun menyegarkan muka dan badan yang sempat bermandi peluh. Sungai yang jernih menjadi tempat yang tepat untuk membasuh wajah dan merasakan dinginnya air sumber Coban Sewu. Bebatuan eksotis di dasar tebing menambah indah ciptaan Tuhan ini. Jika tak ingat waktu telah beranjak siang, rasanya saya ingin berlama-lama berada di tempat ini. Saya masih ingin menikmati view Coban Sewu dari spot Lumajang. Kabarnya, pengunjung bisa berfoto tepat di atas air terjun. Karena itulah, kami segera menyudahi keasyikan bercumbu dengan Coban Sewu. 

Tebing sekeliling Coban Sewu
Menikmati percikan air terjun

Saat sudah berada di dasar tebing, ada dua pilihan untuk menyaksikan view Coban Sewu dari spot Lumajang. Pertama, kembali ke tangga bambu dan mendaki tebing menuju tempat parkir di spot Malang, kemudian baru naik kendaraan ke Lumajang. Kedua, menyusuri sungai lalu bertemu dengan dua air terjun (Telaga Biru dan Gua Tetes), lantas mendaki tangga sepanjang tebing sampai puncak, baru naik ojek menuju spot Malang. Tentu saja saya memilih cara kedua. Selain dapat bonus dua air terjun, menurut saya, kami lebih hemat waktu. Namun, petualangan kami di Air Terjun Telaga Biru dan Gua Tetes akan saya bagi di post berikutnya di blog ini. 

Sumber air di mana-mana
Tinggi air terjun 180 meter
Eksotisme Coban Sewu

Singkat cerita, begitu sampai di puncak tebing di wilayah Lumajang, kami harus membeli tiket Rp 5.000 untuk menikmati view Coban Sewu dari atas. Warga menyebut lokasi ini Panorama. Kaki yang telah lunglai akibat turun dan naik tebing curam tak membuat semangat kami luntur. Jarak 300 meter masih harus ditempuh dengan harapan view Coban Sewu tepat dari puncaknya. Namun, setelah sampai tujuan, ternyata ini bukan view yang saya bayangkan. Jalur menuju lokasi puncak air terjun telah ditutup karena sempat memakan satu korban jiwa yang jatuh ke jurang setelah berfoto selfie sambil loncat-loncat. 

Menyerupai lubang bumi
Istri saya dan Coban Sewu
Coba lihat tangga bambu sepanjang tebing itu
 
Coban Sewu, indah dari segala sisi
Meski demikian, saya tak terlalu kecewa. View Coban Sewu dari Panorama ini juga indah. Saya bisa melihat secara utuh Coban Sewu dari kejauhan. Bentuknya menyerupai lubang bumi yang menganga. Selain itu, saya bisa melihat kembali tangga bambu sepanjang tebing di sisi Malang yang tadi kami lalui. Rasa syukur dan puas tak terhingga karena semua spot Coban Sewu telah kami datangi dalam cuaca yang cerah dan bersahabat. Bagi kami, ini adalah salah satu petualangan luar biasa yang tak mudah dilupakan. (*)

12 comments:

  1. Waaaah, saya sebagai orang Jawa Timur jadi malu belum pernah main di mari. Mantab banget viewnya emang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ada waktu, coba main ke sini, Mas Adie. Viewnya memang istimewa!

      Delete
  2. Emejing, Gan. Baik foto fotonya maupun tulisannya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur suwuuuun, Bos. Ayo explore Malang dan Batu lagiii

      Delete
  3. View nya berbanding lurus dengan tata bahasanya, keren 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, makasih banyak, Do. Buruan ke sini hehe

      Delete
    2. Hehehe. Pengenya gitu pak. Masih sibuk skripsi. Heheh

      Delete
    3. Semoga segera kelar dengan nilai A! Amiiiin

      Delete
  4. kuliah 4 tahun belim pernah ke sini... wah.. bisa dicobaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuliah di Malang ya mbak? Harus ke sinii sebelum wisuda hehehe

      Delete
  5. keren banget usalannya mas, jadi pengen main ke jatim lagi! oh ia kunjungi blog saya juga mas sharing pengalaman dan ilmu, salam kenal mas! ini blog saya mhdanugrah.wordpress.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Mas Sanato Igawa. Jatim menarik buat diexplore. Segera saya berkunjung ke blog Mas.

      Delete