Wednesday, 26 August 2015

UNIKNYA BUKIT KAPUR SEKAPUK



“Mau tanya, Pak, bukit kapur Sekapuk sebelah mana ya?” tanya saya kepada seorang bapak di pertokoan dekat gapura masuk Desa Sekapuk.

Tak menjawab pertanyaan saya, si bapak dengan wajah tanpa ekspresi malah melontarkan pertanyaan, “Mau apa Mas ke sana?”

Meski sempat bengong dengan pertanyaan si bapak, saya lalu menjelaskan tujuan saya dengan kalimat yang menurut saya paling mudah dimengerti, “Mau lihat pemandangan, Pak.”

“Kalau tempat gali kapur, ada di sana (menunjuk arah masuk Desa Sekapuk), tapi itu tempat orang kerja, bukan tempat melihat pemandangan, Mas,” terang si bapak ini sambil memandang saya lekat-lekat.


Panorama bukit kapur Sekapuk


Dalam hati, saya sangat mengerti apa yang bapak itu maksud. Namun, saya tak ingin berdebat. Setelah mengucapkan terima kasih, saya lantas pamit menuju arah sesuai petunjuk si bapak.

Sekitar 250 meter dari gapura itu, terlihat bukit kapur lokasi penambangan bukit kapur. Tempat inilah yang saya cari setelah mendapat rekomendasi teman travel blogger dan tertarik melihat foto bukit kapur ini di media sosial. Bukit ini sempat membuat nama Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik, dibicarakan komunitas penyuka foto nature di Instagram.

Bukit kapur dari ketinggian
Jalan masuk saya waktu itu

Begitu melihat ada jalan masuk menuju bukit, saya berhenti dan mendekati pos penjaga. Namun, petugas keamanan penambangan mencegah saya masuk lewat jalan itu dengan alasan mengganggu lalu lintas kendaraan berat yang lalu lalang di sana. Meski sempat kecewa, saya memahami alasan petugas keamanan ini. Lokasi ini bukanlah tempat wisata. Kedatangan pengunjung tak resmi seperti saya justru mengganggu proses penambangan.

Bertekstur pahatan
 
Ada yang bilang eksotis
Tetapi, saya tak mau pulang dengan tangan hampa. Sekali lagi saya dekati pos jaga untuk meminta izin masuk 30 menit saja, jalan kaki. Namun, saya sepertinya kurang berbakat melobi. Si petugas jaga tetap melarang saya masuk. Saya pun menghela napas panjang tanda putus asa. Eh, petugas itu kemudian bertanya, “Mas dari mana?”

Saya tinggal di Bojonegoro, tapi saat itu saya beberapa hari sudah berada di rumah mertua di Gresik. Untuk menarik rasa iba petugas, saya pun menjawab, “Dari Bojonegoro, Pak, khusus ke sini hanya untuk lihat bukit kapur.”

Banyak lorong
 
Truk pun bisa masuk
 
Pekerja di penambangan kapur
Rupanya, jawaban saya ini membuahkan hasil. “Dari jauh ya, Mas. Kalau memang mau, lewat jalan lain saja. Sekitar 100 meter dari sini, ada jalan lagi. Di sana sepi,” ujar si petugas.

Tak sabar, saya pun memacu kendaraan menuju jalan tersebut. Dan, ternyata benar. Jalan masuk ini sepi dari kendaraan berat. Tak jauh dari jalan raya, saya sudah sampai di bukit yang berwarna dominan putih ini. Tak perlu jalan kaki karena kendaraan saya bisa masuk ke kawasan penambangan.
Sebagian bukit ini telah berubah menjadi kubangan. Dinding-dinding bukit penuh lubang menyerupai pintu gua. Uniknya, lubang-lubang tersebut bertekstur kotak-kotak. Dengan gergaji khusus, para pekerja itu menambang batu berbentuk balok batu bata putih beragam ukuran, dari yang kecil hingga besar.

Beberapa lorong saling terhubung
 
Bisa jadi bahan bangunan dan pupuk

Kerap jadi lokasi hunting foto

Seperti yang kita tahu, batu-batu itu merupakan salah satu bahan bangunan. Didorong rasa penasaran, saya yang saat itu ditemani istri memasuki satu demi satu pintu gua tersebut. Ternyata, beberapa pintu itu menjadi lorong besar nan gelap. Tak sedikit lorong yang berukuran besar, sampai-sampai truk pun bisa masuk untuk mengangkut batu kapur.

Di salah satu lorong, saya sempat berbincang dengan sejumlah pekerja. Saya sapa mereka. Mereka pun dengan ramah mempersilakan saya masuk melihat-lihat bagian dalam lorong. Mereka mengira saya berniat membeli batu bata. “Murah, Pak, kalau beli di sini. Batu kapur besar ini hanya Rp. 3.500 per potong,” katanya. Harga belum termasuk ongkos kirim. Hehehe.

Jelajah lorong
 
Menurut saya, unik

Bukit ini ternyata cukup panjang, membentang sepanjang 3 kilometer dari Desa Sekapuk hingga Desa Cangaan. Bukit ini telah dijadikan lokasi penambangan sejak tahun 1950-an. Awalnya, aktivitas penambangan itu dilakukan secara liar. Namun, kini penambangan batu kapur dikelola oleh pengusaha atau perusahaan yang telah mengantongi izin penambangan. Sedangkan sebagian warga menjadi pekerja di sana.

Selain batu bata putih untuk bahan bangunan, perusahaan tersebut juga menambang bahan pupuk, yaitu dolomit dan fosfat. Aktivitas warga menggali, menggergaji, dan memahat batu terus-menerus selama puluhan tahun itulah yang menyebabkan bukit ini terlihat unik. Ada juga yang menyebut eksotis.

Saya dan bukit kapur Sekapuk

Karena itulah, tak sedikit pengunjung yang ingin mengabadikan keunikan bukit ini. Kabarnya, agar acara hunting foto di sana aman dan lancar, kita harus melayangkan surat permohonan tertulis ke perusahaan penambang. Selain tidak akan dihalang-halangi, kita akan dikawal selama di lokasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau saya, saya lebih memilih yang cepat dan murah. Yang paling penting, tetap waspada. (*)

8 comments:

  1. Replies
    1. Jadi ga perlu jauh-jauh yaa, cukup ke Gresik. Hehehe

      Delete
  2. View-nya menjual nih, meskipun bukan obyek wisata. Malah jadi penasaran seperti apa bentuk gergajinya..

    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak Gio, saya juga penasaran. Sayang pas saya ke sana, ga ada aktivitas penambangan. Para pekerja cuma ngangkut batu kapur.

      Delete
  3. untuk pergi kesana harus ada surat izinnya yaa ka ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya ga perlu surat izin kalau Mbak masuk lewat jalan umum. Saya awalnya sempat mau masuk lewat jalan proyek. Hehe.

      Delete