Tuesday, 14 July 2015

MENENGOK AIR TERJUN KEDUNG GUPIT




Berkali-kali merencanakan kunjungan ke Air Terjun Kedung Gupit, berkali-kali pula batal. Giliran tanpa rencana, justru saya berkesempatan mengunjungi objek alam di Bojonegoro ini. April lalu, saya dan tim berkunjung ke SMPN 2 Gondang untuk sebuah keperluan. Selepas acara itu, kami tanpa pikir panjang mencuri waktu ke sana. Meski salah kostum karena pakai baju kerja, hunting dadakan ini tetap berkesan.

Air Terjun Kedung Gupit berada di wilayah perbatasan antara Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, dan Desa Gayam, Kecamatan Sekar. Namun, akses menuju ke sana lebih mudah melalui Desa Krondonan. Karena itulah, banyak pula yang menyebut air terjun ini Air Terjun Krondonan. Jarak tempuhnya sekitar 50 kilometer dari Kota Bojonegoro. Maklum, dua kecamatan itu merupakan wilayah paling ujung selatan Bojonegoro, berdekatan dengan Kabupaten Madiun.

Perbukitan di wilayah Gondang dan Sekar
Jalan setapak menuju Kedung Gupit
Jangan khawatir tersesat. Kedung Gupit mudah dicari. Temukan dulu SMPN 2 Gondang di Desa Krondonan. Di depan sekolah ini, ada warga yang menyediakan tempat parkir. Tidak ada tiket masuk lokasi karena potensi wisata ini belum dikelola oleh pemerintah setempat. Selanjutnya, silakan jalan kaki sekitar 1 kilometer. Jalan setapak melewati sawah, kebun jagung, lembah, dan sungai. Pemandangan yang tersaji adalah perbukitan dan lembah. Sayangnya, bukit-bukit yang kabarnya dulu lebat oleh pohon itu kini berubah menjadi hutan gundul. 

Sungai berbatu
Kedung Gupit dari kejauhan
Kebetulan, bulan April lalu curah hujan telah berkurang. Sungai menuju Kedung Gupit pun mudah dilalui. Bebatuan besar sepanjang sungai menjadi pijakan. Hanya sesekali kami terpaksa melepas sepatu dan melipat celana. Sungai terdalam berada di beberapa meter menjelang air terjun. Saat puncak musim hujan, kabarnya, kedalaman sungai ini mencapai perut orang dewasa. Dari sini, deru air terjun sudah terdengar dan membuat kami semakin bersemangat menerjang sungai.

Kedung Gupit berada di balik bukit. Letaknya persis di sudut bukit, mirip ujung gang buntu. Dari kejauhan, curah air saat itu tampak hanya segaris. Namun, begitu didekati, baru jelas bahwa air yang turun menyerupai hujan, melebar beberapa meter di tebing setinggi kurang lebih 8 meter. Untuk mendekati air terjun, saya harus memanjat bebatuan yang lumayan besar. Bebatuan yaang berada di bagian tengah bertekstur kesat dan bebas lumut sehingga mudah dilalui. Sedangkan bebatuan di bagian tepi yang jarang terkena sinar matahari cukup licin karena ditumbuhi lumut hujau.

Air tejun mirip air hujan
Masih alami, belum dikelola
View berlawanan arah dengan air terjun
Sebenarnya saya sangat ingin lebih dekat dengan sudut bukit untuk mengambil foto air terjun dari sisi berlawanan dengan foto-foto sebelumnya. Namun, saya merasa itu terlalu berisiko karena harus merayap di dinding tebing licin dan berlumut. Semakin tinggi batu, semakin banyak tanaman yang tumbuh di tanah rapuh di atas batu. Apalagi saya salah kostum, pakai baju batik dan celana kain. Hehehe. 

Saya dan Kedung Gupit
Akan tetap indah tanpa sampah!
Menurut warga setempat, debit air sangat tinggi pada puncak musim hujan. Air berwarna keruh kecokelatan. Sedangkan  pada puncak musim kemarau, debit air sangat rendah sehingga tak tampak lagi air terjun yang deras. Yang ada adalah air yang merembes di dinding tebing. Jadi, jika ingin mendapatkan view terbaik dengan medan sungai yang mudah dilalui, datanglah pada akhir musim hujan atau menjelang pergantian musim hujan ke musim kemarau. Ingat, jangan tinggalkan sampah! (*)

6 comments:

  1. Fokus baju kerjanya, Mas Edy macam mau foto session majalah fashion aja hehehe
    Oh iya, jalan menuju Desa Krondonan sudah aspal mulus atau masih bergelombang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, Kak Halim bisa aja. Jadi malu saya.

      Jalannya masih bergelombang, Kak. Aspal berlubang, sama paving yang sudah ga rata.

      Delete
  2. Mantaap jadi pengin kesini....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mas Amin. Kalo ke Bojoengoro, silakan mampir ke sini.

      Delete
  3. Saya sudah di sungainya belum sampai air terjunnya kembali pulang lagi..
    Sudah hampir magrib, cuma bertiga sudah gak ada orang sama sekali tak tahu harus bertanya pada siapa, gk ada signal pula. Terdiri dari sungai kecil dan dua sungai besar bebatuan.
    Kami bingung ambil menelusuri sungai yang mana? Karena kami takut, kalau terjadi hal yg tidak di inginkan. Kami putuskn pulang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sayang sekali, Mas Syahid. Air terjun sebenarnya tidak jauh dari sungai, tinggal menyusuri sungai ke balik bukit.

      Coba lagi di kesempatan yang lain, Mas. Hehehe.

      Delete