Wednesday, 25 February 2015

ADA KERAJAAN JIN DI AIR TERJUN SRI GETHUK?




Hari ketiga di Yogyakarta, 2 Januari 2015, saya menjelajahi Gunungkidul. Sudah lama saya dengar salah satu kabupaten di Provinsi DIY itu memiliki banyak destinasi cantik, mulai air terjun, pantai, gua, dan perbukitan. Dengan bantuan dua kawan saya di Yogyakarta, Dede Sunarya dan Ryo Rebi, saya menyusun rute mulai air terjun, pantai, hingga candi. Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Air Terjun Sri Gethuk. Objek yang juga dikenal dengan nama Air Terjun Slempret dan Air Terjun Sompret ini terletak di Dusun Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul.

Kami berangkat dari Kota Yogyakarta sekitar pukul 06.00. Jalanan basah sisa hujan semalam. Untunglah, perjalanan kami lancar. Sekitar pukul 07.30 kami sampai di Air Terjun Sri Gethuk. Tiket masuk Rp. 5.000/orang plus ongkos parkir. Hanya sekitar 500 meter jalan kaki, kami sudah sampai di air terjun dengan curah air melimpah ini. Karena masih pagi, belum banyak pengunjung. Lumayalah, saya pun leluasa mengabadikan beberapa angle air terjun. 

Air Terjun Sri Gethuk berketinggian sekitar 25 meter ini kabarnya tak pernah kering sepanjang tahun. Debit air mencapai 80 meter/detik, bersumber dari tiga mata air, yaitu mata air Kedung Poh, Ngandong, dan Ngumpul. Padahal, Gunungkidul dikenal sebagai kabupaten yang tandus. Keberadaan air terjun yang resmi dikelola sejak tahun 2007 ini pun menjadi daya tarik tersendiri. Gemuruh air terjun yang memecah kesunyian membuat suasana kian segar.

Perpaduan air terjun dan hijau daun
Mengutip informasi penting di papan sebelum pengunjung menuruni anak tangga menuju air terjun, air terjun ini merupakan fenomena alam yang unik. Sungai yang berasal dari ketinggian pematang batu gamping memotong tebing batuan membentuk air terjun sebelum bermuara di Sungai Oyo. Tebing batuan adalah bidang besar yang arahnya sejajar dengan sungai utama. 

Air cokelat saat musim hujan
Debet air tinggi
Konon, air terjun yang sekarang menjadi objek wisata ini dulu dikenal oleh warga Desa Bleberan sebagai kerajaan jin dengan pimpinan jin Anggo Menduro. Jin-jin di kerajaan tersebut gemar memainkan musik gamelan hingga terdengar ke perkampungan warga. Anehnya, saat didekati, suara musik itu justru tak terdengar. Padahal, pada saat-saat tertentu terdengar suara slompret (alat musik tiup) dan kethuk (alat musik pukul). Karena itulah, masayarakat setempat menyebutnya air terjun Slempret atau Sri Gethuk. Agak seram ya. Untunglah, legenda seram itu sama sekali tidak terasa saat saya mengunjungi Air Terjun Sri Gethuk.  Hehehe.

Bebatuan di sekitar air terjun

Ini bukan jin :)
Kebetulan air waktu itu keruh kecokelatan. Pada musim kemarau, air jernih dan sungai pun berwarna hijau. Selain menikmati air terjun, pengunjung bisa melakukan aktivitas permainan seperti menyusuri sungai dengan perahu tradisional atau berenang dengan ban pelampung. Hanya, saat debet air sedang tinggi dan arus deras, hat-hati ya. Tetap utamakan keselamatan saat berada di alam bebas seperti ini. (*)

2 comments:

  1. Sejak kuliah saya pengen ke Air Terjun Sri Gethuk ini.. Dan sampai saat ini belum juga kesampaian.. huft..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengalaman saya nih Mas, mending ke sini pas awal musim kemarau. Kalo musim hujan, apalagi habis hujan, airnya keruh begini. Heheheh

      Delete