Friday, 17 October 2014

WADUK PACAL: PENINGGALAN BELANDA DI BOJONEGORO




Sebagai warga pendatang di Kota Bojonegoro, aku tak jarang bertanya tentang objek wisata alam yang ada. Salah satu jawaban yang kerap muncul adalah Waduk Pacal. Rupanya, objek tersebut telah menjadi maskot kabupaten yang juga dikenal sebagai penghasil kayu jati dan minyak ini. 

Waduk Pacal berjarak 35 km ke selatan dari Kota Bojonegoro, tepatnya di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang. Kita juga dapat menempuh perjalanan sekitar 30 km ke utara dari Kota Nganjuk. Sepanjang perjalanan, kita disuguhi hutan jati, tebing, jurang, dan jalan berkelok. Jalan aspal yang mulus membuat waktu tempuh tak lebih dari 45 menit dari Kota Bojonegoro atau Nganjuk

Masih kokoh dan berfungsi baik

Petugas penjaga tiket menyatakan, bendungan di Waduk Pacal dibangun pada tahun 1933 oleh pemerintah penjajah Belanda. Tahun peresmian bendungan dengan arsitektur khas zaman kolonial itu juga tertulis di menara dam. Hebatnya, sampai saat ini bangunan dam masih kokoh dan berfungsi baik. 

Waduk dikelilingi bukit
 Pada musim hujan, air Waduk Pacal sangat melimpah. Bahkan, luas danau mencapai 3,878 kilometer persegi dengan kedalaman 25 meter. Dari waduk inilah, disalurkan air melalui irigasi ke lahan persawahan di sejumlah kecamatan di Bojonegoro. Beragam ikan air tawar seperti nila dan udang pun banyak hidup di sana. Para pengunjung bisa membeli hasil tangkapan nelayan atau menikmati olahan ikan tawar yang disajikan sejumlah warung di sana.

Perahu nelayan

Tempat nelayan berburu ikan tawar
Untuk menjelajahi waduk, para pengunjung bisa naik sampan keliling danau jika ingin merasakan sensasi tersendiri. Tidak ada tarif pasti karena sebenarnya pemilik perahu kecil itu adalah para nelayan sekitar. Rata-rata pengunjung merogoh kocek Rp. 15.000 untuk sekitar 30 menit. 

Perahu nelayan
Pengunjung yang suka fotografi bisa memanfaatkan sejumlah spot untuk membidik keindahan danau atau momen aktivitas nelayan. Kabarnya, sunset di danau ini juga indah. Sedangkan mereka yang doyan melatih kesabaran bisa memancing di beberapa sisi waduk. Seru tampaknya jika kemudian bakar ikan pancingan sendiri. Hehehe.

Menjala ikan

Membawa pulang hasil tangkapan

Namun, pada musim kemarau, debit air menurun drastis. Bahkan, pada puncak musim kemarau, tanah dasar di tepian waduk kering kerontang. Ada juga yang menjadi lahan pertanian warga sekitar. Mereka menanam tembakau, semangka, cabai, dan jagung. 

Sebenarnya, waduk ini merupakan objek wisata yang cukup potensial bagi Kabupaten Bojonegoro. Namun, perlu banyak sentuhan agar lebih banyak pengunjung yang datang. (*)

2 comments: