Tuesday, 11 October 2016

GROJOGAN SEWU KINI LEBIH TERAWAT




Setelah menghabiskan sarapan pagi di rest area Waduk Selorejo Ngantang, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Grojogan Sewu di Dusun Tretes, Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Kami hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai di objek tujuan. 

Dari arah Kota Batu, Grojogan Sewu terletak di sisi kiri jalan raya. Tak ada tempat parkir khusus untuk mobil. Pengguna kendaraan roda empat cukup memarkirnya di tepi jalan raya. Sedangkan untuk sepeda motor, seorang warga menyediakan halaman rumahnya sebagai lahan parkir. 

Warga lokal juga menyebut Grojogan Sewu dengan nama Coban Sewu. Grojogan dan coban bermakna sama, air terjun. Sedangkan sewu berarti seribu. Di Jawa, kata sewu sering dipakai untuk mewakili sesuatu yang berjumlah sangat banyak. Bisa ditebak sendiri, latar belakang pemberian nama air terjun ini tentu saja karena tingginya curah air terjun. 

Bangunan pendapa
Kini airnya jernih
Grojogan Sewu adalah air terjun yang bisa lihat dari kejauhan ketika melewati jalan utama Batu-Jombang. Jaraknya hanya sekitar 200 meter dari jalan raya. Namun, air terjun ini tak sepopuler Coban Rondo. Karena itu, tak banyak wisatawan yang menjadikan objek ini sebagai salah satu destinasi mereka.

Tak ada tiket untuk masuk area wisata ini, alias gratis. Kita tinggal menyeberangi sebuah jembatan sepanjang sekitar 30 meter. Jalan cor setapak telah dibangun untuk memudahkan pengunjung menelusuri pematang sawah.

Curah air terjun selalu tinggi
Kondisi lokasi kian terawat

Sekitar 10 menit berjalan kaki, kami sudah sampai di Grojogan Sewu. Bagian pertama yang menarik perhatian saya adalah sebuah bangunan berwarna dominan merah menyerupai kelenteng. Bangunan berlantai keramik ini mirip pendapa. Sejumlah pengunjung tampak bersantai di sana. Sebatang pohon beringin yang sangat teduh berdiri kokoh di samping bangunan merah itu. Di bawahnya terdapat sebuah patung Buddha dan beberapa benda pemujaan seperti dupa dan bunga. 

Grojogan Sewu sudah bisa dinikmati dari pendapa merah ini. Jika ingin mendekat di bawah air terjun berketinggian kurang lebih 50 meter ini, kita harus melewati jembatan kecil. Siap-siap basah terkena cipratan air yang terbawa angin bisa sampai jembatan itu. Air terjun Grojogan Sewu seperti membelah tebing yang ditumbuhi aneka tanaman hijau. Tak ada telaga di dasar air terjun. Hanya tampak sedikit genangan karena air langsung mengalir ke sungai tepat di sampingnya. 

Patung Buddha
Tempat pemujaan di bawah pohon beringin

Sebenarnya ini adalah kunjungan kedua saya ke Grojogan Sewu. Pada Desember 2015, saya pernah ke sini. Kesan saya, Grojogan Sewu kini lebih terawat. Pada kunjungan pertama saya, mungkin karena sedang musim hujan, air di genangan itu berwarna kecokelatan. Tampak beberapa sampah ranting pohon. Jembatan kecil di dekat air terjun pun kusam dan berlumut. Kini, air terjun sangat jernih. Jembatan kecil di dekat air terjun telah dicat merah dan kuning, senada dengan cat pendapa. Panorama hijau di sekitar tebing Grojogan Sewu kian menyejukkan mata. 

Jika kebetulan melewati jalur ini, tak ada salahnya kita menjadikan Grojogan Sewu sebagai tempat beristirahat. Selain mengumpulkan kembali tenaga, kita bisa menggunakan sejumlah fasilitas yang ada seperti musala dan toilet yang terbilang bersih. 

Panorama hijaunya menyejukkan mata
Tak bosan meski dua kali ke sini

Apalagi, warga Desa Bendosari telah mengembangkan potensi desanya ini dengan konsep kampung ekowisata. Selain Grojogan Sewu, mereka juga menawarkan Grojogan Mutiara, river track Sungai Kahuripan, petik apel, paket motor trail, hill walking, dan panen madu alami. Bukan hanya itu. Sejumlah program pelestarian mata air di desa itu juga mereka jadikan sebagai wahana wisata edukatif. Di antaranya, mikrohidro, pertanian ekologis, program biogas kotoran ternak sapi, dan upacara tradisional ruwatan mata air. (*)

7 comments:

  1. pernah mampir kesini waktu menuju Batu. Bener dari jalan keliatan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas, jalan kaki ke air terjun ga sampe 10 menit, hehe.

      Delete
  2. aku belum pernah nulis tentang daerah kampung halaman aku sendiri nih Mas hehe...

    ReplyDelete
  3. senang banget kalau melihat sesuatu yang terawat dan bersih, semoga lingkungan dan alamnya tetap terjaga dan bisa dikujungi banyak orang

    ReplyDelete