Thursday, 15 September 2016

COBAN RONDO BUKAN HANYA AIR TERJUN



Jika ditanya, objek wisata alam apa yang sangat populer di Malang, salah satu jawabannya pasti Coban Rondo. Tak salah jika air terjun yang di terletak di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, ini menjadi primadona. Aksesnya sangat mudah, bahkan bus besar pun bisa sampai lahan parkir. Selain itu, kawasan Coban Rondo kini dilengkapi objek-objek menarik lainnya. 


Saya bahkan sudah dua kali berkunjung ke Coban Rondo. Pada Desember 2015, saya bersama keluarga menikmati indahnya taman labirin dan rumah anggrek serta sejuknya air terjun Coban Rondo. Taman labirin dan rumah anggrek dapat ditemui sekitar 250 meter setelah loket tiket Coban Rondo. Eits, jangan buru-buru. Sepanjang jalan, pemandangan yang tersaji adalah hamparan hutan pinus yang menurut saya eksotis.

September 2016 ini, saya kembali mendatangi Coban Rondo untuk mendampingi siswa-siswa saya yang sedang mengikuti latihan dasar kepemimpinan (LDK). Kali ini, saya merasakan sendiri serunya menginap di camping ground serta beberapa kali menyambangi air terjun Coban Rondo. Bumi perkemahan yang disediakan oleh pengelola berada di sepanjang jalan dan hutan menuju air terjun. 

Lika-liku taman labirin
Taman labirin difoto dari menara
Menurut saya, camping ground di kawasan Coban Rondo bisa dikatakan ideal. Lahannya sangat luas, pengunjung tinggal memilih lokasi yang dekat dengan jalan atau sedikit masuk ke hutan. Semua kawasan sejuk dan teduh karena rimbunnya pepohonan pinus dan cemara. Setiap area camping ground telah dilengkapi kamar mandi dan toilet yang cukup bersih untuk ukuran objek wisata alam. Airnya sangat dingin dan terus mengalir sehingga pengunjung tak perlu khawatir bak mandi bakal kosong. 

Jangan ditanya soal udara dinginnya pada malam hari. Tapi tenang, pakaian tebal dan alas tidur kedap air bisa diandalkan sebagai pelindung tubuh. Menyalakan api unggun, bakar jagung, atau minum minuman hangat bisa menjadi pilihan aktivitas yang berkesan. Jika malas menyiapkan makanan sendiri, warung makanan dan minuman pun tersedia. Sekadar info, warung-warung tersebut juga menjual kayu bakar, jaket, syal, topi, dan sarung tangan.

Gapura masuk Coban Rondo
Banyak gazebo untuk beristirahat
Monyet liar banyak ditemui

Air terjun Coban Rondo sebagai objek utama pun tak kalah menarik. Berada di ketinggian 1.135 meter di atas permukaan laut, Coban Rondo diselimuti suhu rata-rata 20 derajat celsius. Air yang bersumber dari mata air Cemoro Dudo jatuh dari ketinggian 84 meter. Pada musim hujan, debit air 150 liter/detik, sedangkan pada musim kemarau 90 liter/detik. Air terjun seolah membelah tebing tinggi nan curam. Dasar tebing berupa bebatuan dan sungai yang mengalir menuju hutan pinus. Monyet-monyet pun masih liar berkeliaran di sana. 

Selalu ramai pengunjung
Cocok untuk objek wisata keluarga, sekolah, atau kantor
 
Asal-usul Coban Rondo pun cukup memikat perhatian. Air terjun ini berasal dari kisah sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi, sedangkan mempelai pria bernama Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro.

Kedua orang tua Dewi Anjarwati melarang sepasang pengantin ini bepergian karena baru selapan (sekitar satu bulan) menikah. Namun, sepasang sejoli ini bersikeras pergi dengan keberanian menerima risiko apa pun. Dalam perjalanan, keduanya dikejutkan dengan kehadiran Joko Lelono yang tidak diketahui asal-usulnya. Tampaknya, Joko Lelono terpikat akan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya dari tangan Raden Baron Kusuma. 

Punya legenda dan jadi cerita rakyat
Dijadikan objek wisata sejak 1980
Suhu rata-rata 20 derajat celsius

Perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Kepada para pengawalnya, Raden Baron Kusuma berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang ada air terjunnya (coban). Perkelahian berlangsung lama dan sengit. Kedua pria ini akhirnya meninggal. Dewi Anjarwati pun menjadi seorang janda (rondo). Sejak saat itulah, air terjun tempat Dewi Anjarwati menunggu suaminya itu disebut Coban Rondo. Konon, batu besar tepat di bawah air terjun adalah tempat duduk sang putri kala itu. 

Saya dan Coban Rondo
Menjadi sumber air PDAM Kecamatan Pujon
Pengunjung diimbau berhati-hati karena bebatuan ini licin
Coban Rondo pertama kali digunakan sebagai objek wisata pada 1980. Hingga saat ini, objek yang berada di wilayah KPH Perum Perhutani Malang ini menjadi destinasi pilihan para wisatawan, baik bacpacker atau mereka yang datang bersama rombongan. Akses yang mudah serta lahan parkir yang luas dan sangat dekat dengan air terjun menjadi pertimbangan utama. Apalagi, selain bumi perkemahan, taman labirin, dan rumah anggrek, Coban Rondo juga dilengkapi beragam wahana outbond dan permainan seperti paint ball dan flying fox.

Coban Tengah
Jika Anda punya banyak waktu, lengkapi petualangan ke Coban Rondo dengan mengunjungi Coban Tengah. Letaknya sekitar 1,5 meter dari camping ground. Saya sempat merasakan sensasi kealamian air terjun yang sangat jauh lebih sepi dibanding Coban Rondo ini. Bahkan, jika sedang beruntung seperti saya, tak ada satu pengunjung lain di sana selain Anda. (*)


10 comments:

  1. Sejuk suasananya, seger airnya pak 👍

    ReplyDelete
  2. Andai iso digawe adus yah.... Andai ga bejubel pengunjunge yah... Haduuuh segerrr.... #mendadak_d_kadoor

    ReplyDelete
  3. Keren mas air terjunnya. Terus taman labirinnya kayak di film Jackie Chan gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Taman labirin ini memang magnet tersendiri, Mas.

      Delete
  4. salah satu daya tarik utama dari coban rondo ya taman labirinnya...
    sering masuk liputan TV euy...
    aku belum pernah kesitu.... heuheuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ada kesempatan, coba keseruan taman labirin Coban Rondo. Instagramable juga lho, hehe.

      Delete
  5. pengen coba labirinnyaa!!

    Adis takdos
    travel comedy blogger
    www.whateverbackpacker.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus memang, hehe

      Terima kasih sudah mampir

      Delete