Thursday, 3 December 2015

MERASAKAN KEHENINGAN MAKAM SUNAN PRAPEN



Dulu setiap kali berziarah ke makam Sunan Giri di Gresik, saya selalu batal menyempatkan diri berziarah juga ke makam Sunan Prapen. Sepertinya, umumnya para peziarah Sunan Giri juga tak mengagendakan kunjungan ke makam Sunan Prapen. Mungkin, itu karena Sunan Prapen tak masuk dalam daftar Wali Songo. Padahal, letak makam Sunan Prapen hanya beberapa meter dari makam Sunan Giri. Nah, ketika kembali berziarah ke makam Sunan Giri belum lama ini, saya pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kali ini saya harus melihat dengan mata kepala sendiri makam yang selama ini hanya saya dengar namanya itu.

Dari gapura keluar kompleks utama makam Sunan Giri, terdapat papan petunjuk menuju makam Sunan Prapen yang termasuk wilayah Desa Klangonan, Kecamatan Kebomas. Ada jasa tukang ojek. Namun, saya yang saat itu sendirian memilih berjalan kaki. Jalan paving sepanjang sekitar 300 meter teduh oleh rimbunnya bambu yang tumbuh di kanan dan kiri jalan. Berbeda dengan kompleks makam Sunan Giri yang dilengkapi toko-toko suvenir khas objek wisata religi seperti perlengkapan ibadah dan makanan khas Gresik, jalan menuju makam Sunan Prapen sangat sepi. Bahkan pejalan kaki pun jarang yang saya temui.

Begitu tiba di kompleks makam Sunan Prapen, saya diam mengamati situasi terlebih dahulu. Sambil sesekali mengambil gambar, saya membaca apa saja informasi yang ada. Di antaranya, makam Sunan Prapen ini sudah resmi tercatat sebagai salah situs bersejarah Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Seperti di kompleks makam Sunan Giri, untuk mencapai bangunan makam Sunan Prapen, peziarah harus menaiki puluhan anak tangga. Namun, bukit menuju makam Sunan Prapen tak setinggi bukit makam Sunan Giri. Di antara pohon-pohon tinggi dan teduh, terdengar suara burung-burung kecil memecah kesunyian. 

 
Tangga menuju kompleks makam Sunan Prapen
Tak lama kemudian, sepasang suami istri yang baru berziarah turun dari anak tangga. Keduanya tersenyum ramah. Saya pun berbasa-basi sedikit, bertanya apakah ada peziarah di atas. Ternyata yang saya dapatkan adalah jawaban yang tak saya harapkan; tak ada satu pun peziarah. Saya sempat mematung sambil menunggu barang kali ada peziarah lain yang menjadi “teman” saya untuk naik ke kompeks makam. Entahlah, suasana yang hening di makam kuno ini membuat saya merasa asing. 

Sepuluh menit berlalu, tak ada satu pun peziarah yang datang. Bismillah, saya memantapkan hati untuk naik. Saya yakin tidak akan ada hal-hal yang saya takutkan. Lagi pula, ini adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Satu per satu anak tangga terlewati. Sampailah saya di gapura tua berwarna putih sebagai pintu masuk kompleks makam. Di balik gapura itu terdapat beberapa bangunan joglo. Di bawahnya terdapat makam-makam yang mungkin berusia ribuan tahun. Di antaranya, makam Panembahan Kawis Guwo dan Panembahan Agung. Bukan hanya itu. Di bawah pohon-pohon tinggi itu juga terdapat sejumlah makam.

Makam Panembahan Kawis Guwo
Makam Panembahan Agung

Makam Sunan Prapen berada di bangunan utama. Saya sebut utama karena bangunan ini berbeda dengan bangunan lainnya. Selain berukuran lebih besar, bangunan joglo ini berwarna lebih cerah. Di bagian tengah bangunan, terdapat bangunan berdinding kayu bermotif ukiran. Bangunan tersebut dikelilingi kain tirai putih. Tepat di bagian pintu bangunan, kain tirai dibuka. Namun, pintu kayu bermotif ukiran itu tertutup rapat. Peziarah hanya diizinkan membaca doa di teras joglo berlantai tekel kuning.

Jujur saja, baru saat itulah saya tahu bahwa Sunan Prapen adalah raja ketiga Dinasti Giri Kedaton, yaitu pusat penyebaran agama Islam di Gresik yang dibangun oleh Sunan Giri. Beliau adalah putra Sunan Dalem, raja kedua Giri Kedaton. Tokoh yang lahir pada tahun 1432 ini memerintah Giri Kedaton pada tahun 1478. Beliau wafat pada tahun 1527 dalam usia 95 tahun setelah memimpin Giri Kedaton selama 49 tahun.
 
Makam Sunan Prapen

Setelah membaca Alfatihah dan doa, saya pun mengakhiri ziarah. Hingga saya turun tangga, tak ada satu pun peziarah lain. Meski sempat merasa asing, saya beruntung mendapatkan ketenangan dalam keheningan suasana makam. Saya akhirnya justru menikmati suasana itu. Perasaan itu pulalah yang menyemangati saya untuk menyambangi situs Giri Kedaton. Ikuti  kisah saya berikutnya minggu depan tentang kerajaan peninggalan Sunan Giri dan Sunan Prapen itu. (*)

2 comments:

  1. Kalau dikunjungi malam aura mistis nya lbh uwaoo kayaknya ya kak. Great article :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Kak Richo.

      Siang bolong saja saya hampir balik kanan, apalagi malam, Kak. Hehehe

      Delete