Tuesday, 8 December 2015

MENENGOK SISA-SISA KEJAYAAN GIRI KEDATON



Setelah berziarah ke makam Sunan Giri dan Sunan Prapen, saya tergelitik untuk melihat dari dekat situs Giri Kedaton di Dusun Kedaton, Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Kota Gresik. Penasaran, rasanya, seperti apa wujud peninggalan sejarah itu saat ini. Apalagi, jaraknya tak jauh, hanya sekitar 1 kilometer, dari bukit tempat dimakamkannya Sunan Giri dan Sunan Prapen. 

Beberapa petunjuk arah memudahkan saya menemukan situs ini. Objek ini berada di antara perkampungan yang lumayan padat penduduk. Sama seperti makam Sunan Giri dan Prapen, situs ini berada di puncak bukit. Kembali saya harus berhadapan dengan ratusan anak tangga. Sampai-sampai saya membuat kesimpulan, orang zaman dahulu mungkin memilih puncak bukit sebagai simbol kemuliaan kedudukan. 

Siang itu Gresik sangat terik. Saya pun bergegas naik bukit dengan harapan bisa segera berteduh di puncak. Sesekali saya menoleh ke belakang dan terlihatlah sebagian wilayah Kota Gresik dari atas. Sampai di puncak, ternyata tak ada lagi bangunan kerajaan. Yang ada adalah sisa-sisa bebatuan kuno berupa punden berundak. Sedangkan tepat di tengah puncak bukit yang tak luas ini, berdiri sebuah musala. 

Gang masuk situs Giri Kedaton
Kendaraan tak boleh dibawa naik
Menuju puncak bukit

Tampak seorang kakek di musala itu. Saya pun mendekat sekaligus berteduh. Dari obrolan singkat kami, kakek asal Madura itu sengaja datang untuk berziarah ke makam putra Sunan Giri, tepat berada di sisi barat musala ini. Beliau datang sendiri dan berdiam diri lama di musala untuk beristirahat. Hanya ada kami berdua. Namun, kami tak banyak bicara lagi karena si kakek tampak terkantuk-kantuk. Sedangkan saya ingin segera mendinginkan muka di tempat wudu.

Sesudah berwudu dan menunaikan salat duhur, saya mengitari situs Giri Kedaton ini. Di sisi selatan, terdapat papan informasi. Sebagian besar tulisan dan foto telah memudar terkena sinar matahari dan hujan. Untunglah saya masih bisa membaca informasi penting di papan tersebut. 

Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa dahulu Sunan Giri mendirikan Kedaton Tundo Pitu, yaitu istana bertingkat tujuh di atas sebuah bukit. Istana itu dikenal kemudian dengan nama  Giri Kedaton. Peristiwa pembangunan Giri Kedaton ini ditandai dengan adanya prasasti yang menunjukkan angka tahun 1408 Saka atau 1486 Masehi.

Puncak bukit situs Giri Kedaton

Sejak itu, Sunan Giri yang bernama lain Raden Paku diangkat sebagai kepala pemerintahan dengan gelar Prabu Satmata sekaligus sebagai pemimpin umat Islam dengan gelar Tetunggul Khalifatul Mukminin. Pengangkatan Sunan Giri sebagai kepala pemerintahan dan pemimpin umat Islamini ditandai dengan prasasti yang menunjukkan tahun 1409 Saka atau 1487 Masehi.

Giri Kedaton berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran agama Islam. Para santri yang belajar agama Islam berasal dari Jawa, Madura, Banjarmasin, Ternate, Tidore, Bima, Hitu (Filipina), dan penjuru nusantara lainnya.

Sunan Giri wafat pada tahun 1428 Saka atau 1506 Masehi. Jasad beliau dimakamkan di Bukit Giri Gajah, sekitar 500 meter dari Giri Kedaton. Sepeninggal Sunan Giri, tongkat kepemimpinan Giri Kedaton dipegang oleh Sunan Dalem (1505-1545 Masehi), Pangeran Sidomargi (1545-1548 Masehi), dan Sunan Prapen atau yang juga dikenal dengan nama Sunan Mas Ratu Pratikel (1548-1605 Masehi). Sunan Prapen adalah raja terbesar Giri Kedaton setelah Sunan Giri.

Puncak bukit dimanfaatkan untuk bangunan musala

Selanjutnya Giri Kedaton dipimpin oleh Panembahan Guwa (1605-1616 Masehi), Panembahan Agung (1616-1636 Masehi), dan Panembahan Mas Witana. Makam Sunan Prapen, Panembahan Guwa, dan Panembahan Agung berada di bukit tak jauh dari makam Sunan Giri. Saya sempat menziarahi makam-makam tersebut sebelum berkunjung ke Giri Kedaton.

Pemerintahan Giri Kedaton mengalami kemunduran setelah diserang Amangkurat I dan II dari Kerajaan Mataram, Jawa Tengah, yang berkoalisi dengan VOC. Giri Kedaton benar-benar runtuh pada April 1680 Masehi. Setelah itu, Giri Kedaton diperintah oleh orang-orang yang bukan keturunan Dinasti Giri. Mereka adalah orang-orang dari Kerajaan Mataram. Di antaranya, Pangeran Puspa Ita (1660 Masehi), Pangeran Wira (1703 Masehi), Pangeran Singanegara (1703-1725 Masehi), dan Pangeran Singasari (1725-1743 Masehi).

Perpaduan punden berundak dan candi
Kota Gresik dari ketinggian

Kegiatan pelestarian dan konservasi situs Giri Kedaton dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan Wilayah Kerja Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik. Mereka telah melakukan pemetaan, ekskavasi (pengupasan tanah), studi kelayakan pugar, studi teknis, pemugaran, konservasi, dan penataan lingkungan.

Situs Giri Kedaton adalah sebuah bukit yang dibuat berteras-teras dan berundak-undak. Semakin ke atas, tangga berundak itu semakin kecil. Untuk sementara, baru ditemukan lima teras. Batas satu teras dengan teras lainnya ditandai dengan dinding yang berbentuk seperti kaki dan tubuh candi. Kakinya berstruktur polos, sedangkan tubuhnya bermotif pelipit-pelipit datar, bingkai cermin, dan bidang persegi panjang.

Makam Raden Supeno
View sisi utara bukit
Konsep situs yang menghadap ke arah timur ini merupakan perbaduan kelanjutan tradisi masa sebelumnya, yaitu bangunan punden berundak zaman prasejarah dan bangunan candi Hindu-Budha di Indonesia. Di beberapa halaman teras terdapat sejumlah fungsi bangunan. Di antaranya, di teras teras utara dan selatan terdapat struktur kolam wudu. Di halaman timur ada makam Mpu Supo, pembuat pusaka Kala Munyeng milik Sunan Giri. Di halaman barat terdapat kuncup dan makam Raden Supeno, salah satu putra Sunan Giri. Di beberapa halaman teras lainnya juga terdapat sejumlah makam kuno yang belum diketahui identitasnya. 


Saya sangat berharap kegiatan pelestarian dan konservasi situs Giri Kedaton ini dilanjutkan. Sangat disayangkan jika salah satu bukti sejarah nusantara ini menjadi tempat yang tak dikenal oleh  generasi saat ini. Peziarah makam Sunan Giri pun sepertinya perlu meluangkan waktu mendatangi situs ini guna melihat dari dekat kerajaan yang pernah dibangun dan dipimpin oleh Sunan Giri. Selain itu, mereka juga bisa berziarah ke makam putra beliau, Raden Supeno. (*)

2 comments:

  1. Wah keren banget pemandangannya. Asik banget bisa nge-capture kota Gresik dari atas bukit. Apakah akses kendaraan umum untuk ke situs ini sudah mudah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setahu saya ga ada kendaraan umum sampai situs ini, Mbak. Tapi mbak bisa naik ojek atau delman kalau mau, start dari lahan parkir makam Sunan Giri.

      Delete