Thursday, 29 October 2015

BERKELILING TELAGA SARANGAN MAGETAN



Magetan, Jawa Timur, ternyata menjadi salah satu tujuan banyak wisatawan. Salah satu andalan kabupaten ini adalah Telaga Sarangan atau yang juga dikenal dengan nama Telaga Pasir. Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, kawasan telaga alami yang diselimuti suhu udara 15 hingga 20 derajat celsius ini kabarnya menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahun. Bersama rombongan guru tempat saya mengajar, 25 Oktober lalu saya berkunjung ke objek ini.

Telaga Sarangan berada di Desa Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. Jaraknya sekitar 16 kilometer dari Kota Magetan. Telaga seluas 30 hektare dan berkedalaman 28 meter ini dikelilingi perbukitan di lereng Gunung Lawu. Di sekelilingnya terdapat penginapan beragam tipe, meliputi dua hotel berbintang, 43 hotel melati, dan 18 pondok wisata. Selain itu, tedapat sejumlah restoran serta toko aneka suvenir seperti kaos, batik, makanan ringan, kerajinan tangan, buah, sayur, dan bunga. 

Petani di lereng Gunung Lawu
Gunung Lawu dari kejauhan
Makanan khas yang banyak dijajakan di kawasan Telaga Sarangan adalah sate kelinci, emping melinjo, dan kerupuk puli (terbuat dari nasi). Tak sedikit pengunjung yang berbelanja sayur sebagai oleh-oleh karena kawasan Telaga Sarangan terkenal akan perkebunan sayurnya. Sedangkan suvenir yang sangat identik dengan Magetan adalah batik dan kerajinan kulit berupa sepatu, sandal, jaket, topi, ikat pinggang, dompet, atau tas. 

Jika ingin berkeliling telaga, pengunjung bisa naik kuda dengan tarif Rp 60 ribu. Seekor kuda bisa dinaiki dua penumpang. Jangan khawatir, bapak pemilik kuda siap menuntun kudanya berkeliling telaga. Pilihan lainnya adalah berkeliling telaga dengan speed boat berkapasitas empat penumpang. Tarifnya Rp 60 ribu untuk satu kali putaran dan Rp 150 ribu untuk tiga kali putaran. 

Dikelilingi bukit
Punya legenda
Keliling telaga dengan speed boat
Siang itu, pengunjung memadati jalanan sekeliling telaga. Tak ada toko yang sepi pengunjung. Mereka berlalu-lalang berbagi tempat dengan kendaraan yang bebas melewati jalan yang sama. Belum lagi kuda-kuda yang berseliweran. Tempat teduh di tepi telaga pun penuh dengan pengunjung. “Memang pada hari Minggu seperti ini, pengunjung banyak sekali,” kata seorang ibu pedagang minuman.

Pada 2007 lalu, saya pernah bermalam di salah satu penginapan di Telaga Sarangan. Pada pagi hari, pemandangan telaga tampak lebih indah dengan kabut yang menutupi sebagian bukit. Udara pun lebih sejuk. Saat itu musim hujan, volume air telaga cukup tinggi hingga menyentuh bibir beton di tepi telaga. Saat ini, volume air berkurang cukup banyak. Untuk naik speed boat, pengunjung harus turun ke dasar telaga. 

Kuda sewaan
 
Selalu ramai pengunjung

Bicara tentang sejarah Telaga Sarangan, ternyata ada sebuah legenda yang dipercaya sebagai asal-usulnya. Konon, zaman dulu di lereng Gunung Lawu, hiduplah sepasang suami istri bernama Ki Pasir dan Nyi Pasir. Pasangan ini hidup berumah tangga bertahun-tahun, tetapi belum dikaruniai keturunan.  Ki Pasir dan Nyi Pasir lalu bersemedi dan memohon kepada Tuhan. Tak lama kemudian, mereka mendapatkan putra laki-laki yang diberi nama Joko Lelung. 

Telaga sedang surut
Selalu ramai pengunjung
Suatu hari, kejadian aneh menimpa keluarga yang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan bercocok tanam ini. Ki Pasir dan Nyi Pasir menemukan sebutir telur. Ki Pasir kemudian merebus dan memakannya berasama Nyi Pasir. Namun, sekujur tubuh Ki Pasir dan Nyi Pasir menjadi panas dan gatal. Pasangan ini lalu mencari sumber air untuk berendam agar rasa panas dan gatal di tubuhnya hilang. Anehnya, keduanya berubah wujud menjadi naga. 
 
Panorama Telaga Sarangan
Dua naga itu marah dan berusaha menggempur gunung hingga membentuk cekungan. Bukan hanya itu. Keduanya bahkan ingin merobohkan pohon-pohon di sekitarnya. Mengetahui hal itu, Joko Lelung pun memohon kepada Tuhannya agar menghentikan tindakan kedua orang tuanya. Doa Joko Lelung dikabulkan. Dua ekor naga itu tiba-tiba sadar dan meredam kemarahannya. Namun, cekungan tersebut telah berbentuk kubangan besar. Kubangan besar itulah yang kemudian dinamai Telaga Pasir atau Telaga Sarangan. (*)

3 comments:

  1. waah, ini telaga sarangan lagi rada surut ya? apa karena musim kemarau? Baru sekali main ke telaga sarangan :D

    ReplyDelete
  2. waah, ini telaga sarangan lagi rada surut ya? apa karena musim kemarau? Baru sekali main ke telaga sarangan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak Fahmi, airnya sedang surut efek kemarau panjang. Untung ga sampai kering hehe

      Delete