Wednesday, 16 September 2015

TUKUL PERNAH TINGGAL DI PUSAT REHABILITASI LUTUNG JAWA



Saya sudah dua kali mengunjungi Coban Talun, pada tahun 2000 dan 2014. Namun, akhir Agustus 2015 lalu, ada tugas mendampingi siswa-siswa untuk mengikuti latihan dasar kepemimpinan di kawasan wisata yang berlokasi Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, ini. Tak mau pulang dengan tangan hampa, sampai di sana saya pun mencari tahu ada daya tarik apa yang bisa saya lihat selain hutan pinus dan air terjun yang sudah saya tulis di blog ini sebelumnya. Ternyata, di kawasan Coban Talun terdapat pusat rehabilitasi lutung Jawa. Saya pun penasaran  dan menyempatkan diri mendatanginya.

Lutung. Saya sering mendengar namanya. Yang terlintas di pikiran adalah cerita Lutung Kasarung. Tetapi, jujur saja saya tak tahu persis bedanya wujud lutung dengan monyet biasa. Saya juga ingin tahu dari dekat pengelolaan pusat rehabilitasi ini. Selain itu, saya juga tertarik menggali informasi seperti apa satwa bernama Latin trachypithecus auratus ini menjalani proses penyelamatan dari kepunahan. Sederet pertanyaan itu pun sukses membawa saya ke sana. 

Jalan menuju Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa
Jalan masuk lokasi
Dari loket tiket Coban Talun, pusat rehabilitasi ini berjarak sekitar 500 meter melewati jalan utama menuju hutan pinus. Tak sulit menemukan tempat ini. Di tepi jalan masuk lokasi tujuan saya, terdapat papan nama Javan Langur Center (Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa). Sebagai tanda datangnya tamu, pengunjung diminta memukul kentongan di pintu pagar bambu. 

Dengan ramah, Mas Heri, seorang staf pusat rehabilitasi menyapa saya. Setelah memperkenalkan diri, kami pun berbincang sekilas tentang lutung dan pusat rehabilitasi ini. Namun, siang itu saya datang pada saat yang tidak tepat. “Siang hari seperti ini, lutung-lutung sedang tidur siang dan tidak bisa diganggu, Mas. Kalau mau, silakan datang saat mereka makan pagi sekitar jam 8 atau makan siang sekitar jam 3 sore,” terangnya.

Papan informasi
Kantor pengelola rehabilitasi lutung
Saya tak keberatan. Kebetulan lokasi camping saya hanya berjarak sekitar 500 meter dari pusat rehabilitasi ini. Sorenya, saya kembali lagi dan betemu dengan Mas Iwan Kurniawan, project manager Javan Langur Center Jawa Timur. Di kantornya yang mirip saung itu, Mas Iwan dan saya membicarakan banyak hal seputar lutung dan pusat rehabilitasi yang didirikan oleh The Aspinall Foundation Indonesia Program, bekerja  sama dengan Perhutani dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), ini. 

“Lutung Jawa saat ini dipandang sebelah mata, Mas. Bentuknya yang tidak semenarik owa Jawa, mukanya yang tidak selucu kukang, perilakunya yang tidak seatraktif orangutan menjadikan lutung kurang diminati kaum konservasionis serta para pemerhati satwa liar, baik di lingkup pemerintahan maupun lembaga swadaya masyarakat. Padahal, lutung adalah satwa endemik yang hanya terdapat di Pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Bahkan lutung yang berbulu oranye hanya ditemukan di Jawa bagian timur,” terang Mas Iwan.

Mas Heri membawa makanan lutung
Lutung-lutung tampak antusias saat Mas Heri membuka pintu pagar kandang
Dia menambahkan, lutung-lutung yang menjalani rehabilitasi di tempat ini berasal dari tiga cara, yaitu hasil operasi penertiban satwa oleh BKSDA dan Polri, penyerahan sukarela masyarakat, serta bayi lutung yang lahir di tempat ini. Proses pertama rehabilitasi adalah karantina. “Untuk lutung-lutung yang baru masuk, kami menerapkan general medical check up. Masa karantina ini sekitar 3-6 bulan. Pada masa ini, juga dilakukan penandaan pada satwa dengan microchip. Kami melakukannya dengan metode yang tidak menyakiti satwa,” terangnya.

Setelah masa karantina, lutung-lutung yang dinyatakan sehat masuk ke kandang sosialisasi. Pada tahap ini, hewan herbivora ini akan mengikuti proses kolonisasi alias pembentukan kelompok atau keluarga. Lutung memang hewan yang pada dasarnya hidup berkelompok, terdiri atas satu jantan dan beberapa betina. 

Sibuk makan
Makan sehari dua kali, pagi dan sore
Pada tahap ini, lutung-lutung yang sempat dipelihara manusia ini mendapatkan pakan dan perlakuan alami agar mereka siap kembali hidup di hutan bebas. Di kandangnya yang luas pun terdapat batang-batang pohon untuk mereka bergelantungan, bergelayutan, atau melompat sana-sini. 

Entah mengapa saat itu muncul pertanyaan, apakah jantan dan betina di sana selalu mau dijodohkan. Ternyata, jawabannya tidak. “Ada beberapa lutung yang gagal dijadikan keluarga. Karena itu, kami harus mengelompokkan ulang mereka dengan lutung lainnya. Itulah antara lain sebabnya waktu yang dibutuhkan lutung untuk menjalani rehabilitasi di sini berbeda-beda,” terang Mas Heri. 

Suka daun-daun muda
 
Rutin mendapatkan pemeriksaan kesehatan
Jumlah lutung yang saat ini menjalani masa rehabilitasi ada 16 ekor. Mereka pun punya nama lho, sama seperti manusia. Di antaranya, seekor lutung bayi berumur 3 bulan bernama Momon yang masih berada di inkubator. Momon diselamatkan warga dari sebuah pasar hewan dengan harga Rp 600.000. Beberapa ekor lutung dewasa berada di kandang karantina. Mereka bernama Cici, Desi, Eman, Lita, dan Rita. Di kandang-kandang sosialisasi, terdapat Suro dan Samson yang masing-masing masih tinggal sendiri di kandangnya, Imron dengan empat betinanya, serta Simon dengan dua betinanya. 

Sore itu, saya berkesempatan menemani Mas Heri dan staf lain memberi lutung makan. Menurut Mas Heri, pengunjung yang masuk areal kandang sangat dibatasi agar tak mengganggu kenyamanan lutung. Dengan seragam khusus, Mas Heri dkk membawa beberapa ikat pucuk tanaman. Ternyata, mereka juga menanam sendiri tanaman-tanaman yang dikonsumsi lutung seperti di alam liar. Di antaranya, randu alas, rambutan hutan, katesan, kededel merah, langsepan, dan kaliandra putih. 

Lutung berbulu oranye hanya terdapat di Jawa bagian timur
Dibiasakan makan makanan yang tersedia di hutan
Satu kandang dengan kandang lainnya ternyata terpisah cukup jauh, sekitar 50 sampai 100 meter. Semua kandang memiliki kunci pengaman. Begitu makanan ini datang, hewan-hewan berekor panjang itu pun tampak antusias. Dengan lahap mereka menyantap daun-daun muda itu dan tak merasa terganggu saat sesekali saya mendekat untuk mengambil foto. Saya sangat terkesan dengan lutung yang berambut oranye. Gradasi warna orangenya menarik sekali. Apalagi bulu lebat di sekeliling mukanya, lucu.

Ternyata, memang ada dua jenis spesies lutung. Satu berbulu hitam keabu-abuan, satu lagi berbulu oranye. Lutung bayi umumnya berbulu oranye. Setelah berusia tujuh bulan, sebagian lutung bulunya berubah menjadi hitam. Tetapi, sebagian kecil lutung lainnya tetap berbulu oranye hingga dewasa. Bedanya, saat lahir, warna oranye bulu mereka lebih terang dibanding lutung yang akan berubah menjadi hitam.

Ekornya cukup panjang
 
Aktif pada pagi dan sore hari
Setelah lutung menjalani masa sosialisasi sekitar satu tahun, petugas kembali melakukan general medical check up untuk memastikan mereka telah siap dilepasliarkan. Lokasi yang dipilih sebagai sasaran pelepasliaran adalah hutan alam yang menjadi habitat aslinya. Hutan yang dijadikan areal pelepasliaran sebelumnya telah diteliti dan dikaji potensinya sebagai habitat lutung Jawa. “Beberapa bulan lalu kami melepaskan sekeluarga lutung Jawa di Hutan Kondang Merak di Malang Selatan,” kata Mas Iwan.

Setelah dilepasliarkan, hewan yang umumnya bertahan hidup hingga 12 tahun di alam liar ini tak dibiarkan begitu saja. Petugas melakukan monitoring serta evaluasi secara berkelanjutan dan intensif. Mereka yang telah dilepasliarkan antara lain keluarga Tukul, keluarga Wira, dan keluarga Bobby. Nama-nama yang tidak asing untuk teman-teman travel bloggers, terutama TBI. Hehehe. Hai, Kak Wira dan Kak Bobby! :) (*)

No comments:

Post a Comment