Tuesday, 7 July 2015

BERZIARAH KE MAKAM SEPANJANG 9 METER



Berapa panjang makam yang pernah Anda lihat? Mungkin paling panjang seukuran tinggi rata-rata manusia ya. Nah, Sabtu 4 Juli lalu saya sengaja berziarah ke kompleks makam dengan sejumlah makam panjang. Tak tanggung-tanggung, panjangnya mencapai 9 meter! Kompleks makam yang telah diresmikan sebagai situs bersejarah dan cagar budaya ini terletak di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Nama resminya adalah Makam Siti Fatimah Binti Maimun, dikenal juga dengan nama Makam Panjang.

Pagi itu, di kompleks Makam Panjang tak tampak satu pun pengunjung lain. Hanya ada saya dan istri. Beberapa langkah sebelum memasuki pintu gerbang makam, seorang perempuan paruh baya memanggil kami.

“Pak, Bu, mohon isi buku tamu dahulu,” ujarnya. Ternyata beliau adalah juru kunci Makam Panjang. Namanya Hj. Ainur Rofiah.

Kami diajak masuk rumah sederhana yang juga menjadi tempat tinggal Bu Ainur dan keluarganya. Setelah mengisi buku tamu, sejenak saya menyempatkan diri bertanya jawab dengan beliau. Dengan ramah beliau memperkenalkan diri dan menjabarkan tugasnya sebagai juru kunci. Atas permintaan saya, beliau juga berkisah sedikit tentang sejarah orang-orang yang dimakamkan di kompleks Makam Panjang.

Dua makam panjang penjaga

Sebagian besar jasad yang dimakamkan di tempat ini adalah para penyebar agama Islam dari Malaka pada tahun 1000-an. Salah satu makam yang juga menjadi nama situs ini adalah makam Siti Fatimah. Beliau adalah putri penyebar agama Islam dari Malaka, Sultan Mahmud Mahdad Alam (Maimun). Siti Fatimah meninggal di usia 18 tahun sesaat setelah terserang wabah penyakit to’un (pagi terserang, sore meninggal atau sebaliknya).

Makam Siti Fatimah terdapat di dalam bangunan kuno menyerupai candi. Bangunan ini didirikan oleh Raja Brawijaya pada masa itu sebagai ungkapan balas budi Raja Brawijaya kepada Sultan Mahmud yang telah memberinya buah delima berisi intan dan perhiasan-perhiasan lainnya. Selain itu, bangunan ini juga menjadi penebus rasa bersalah Raja Brawijaya karena telah menolak perjodohan Siti Fatimah dengan putranya.

Peringatan untuk peziarah

Setelah menuturkan sekilas cerita tersebut, Bu Ainur menyerahkan kunci pintu bangunan makam Siti Fatimah. Saya dan istri kemudian masuk ke kompleks makam tanpa Bu Ainur. Beberapa meter dari pintu gerbang, sudah terdapat dua buah makam panjang di kanan dan kiri jalan, yaitu makam Raden Ahmad dan Raden Said. Keduanya disebut sebagai penjaga atau penerima tamu.

Beberapa langkah kemudian, terdapat pintu gerbang  lagi dengan tulisan “Mintalah Pada Allah”. Rupanya, ini adalah peringatan kepada para peziarah yang salah pemahaman tentang konsep doa. Beberapa peziarah kadang meminta sesuatu kepada orang-orang yang telah dimakamkan itu untuk kelancaran rezeki, jodoh, atau keturunan. Padahal, seharusnya mereka memohon hanya kepada Allah. Tujuan berziarah ke makam adalah untuk mendoakan arwah para jenazah dan mengambil pelajaran tentang perjalanan hidup mereka.

Bangunan menyerupai candi
Bangunan makam Siti Fatimah menyerupai sebuah rumah batu dengan tinggi sekitar 8 meter. Atapnya pun terbuat dari batu. Meski telah ditumbuhi sedikit tanaman di dindingnya, bangunan ini masih tampak kokoh. Dengan kunci yang diberikan Bu Ainur, kami membuka pintu bangunan. Pintu kayu tersebut sangat kecil sehingga memaksa kami menunduk saat memasuki bangunan. Kabarnya, tujuan dibuatnya pintu kecil adalah agar para peziarah melangkah sopan atau menunduk saat masuk sebagai bentuk penghormatan. Aroma wangi tercium tajam. Meskipun cuaca di luar panas, hawa di dalam bangunan justru dingin. Mungkin karena bangunan ini cukup tinggi dan dilengkapi sejumlah lubang ventilasi. Seluruh dinding dan lantai bangunan berwarna putih. Tak terkecuali batu nisan makam.

Pintu masuk makam Siti Fatimah
 
Makam Siti Fatimah
Di dalam bangunan ini terdapat lima makam. Makam paling istimewa adalah makam Siti Fatimah yang ditutup kain tirai berwarna hijau. Di batu nisan makam tersebut tertulis bahwa Siti Fatimah wafat pada tahun 1081 Masehi atau 474 Hijriah. Sedangkan empat makam lainnya adalah makam saudara-saudaranya, yaitu Putri Seruni, Putri Keling, Putri Rucing, dan Putri Kamboja.

Bangunan makam dari belakang sisi timur
 
Bangunan makam dari belakang sisi barat

Menurut buku Sejarah Makam Panjang karya Abu Qotadah, untuk mendirikan bangunan ini, Raja Brawiijaya dibantu oleh pasukan jin Islam hanya dalam dua jam, yaitu pukul 22.00-24.00. Sebenarnya, Raja Brawijaya ingin mendirikan bangunan yang lebih besar dan megah dalam semalam. Namun, pada tengah malam, ayam jantan telah berkokok dan para jin itu menyangka hari telah pagi. Mereka pun berhenti bekerja dan membiarkan bangunan ini setengah jadi.
 
Makam panjang paman-paman Siti Fatimah
Dikelilingi bangunan kuno

Lima makam dalam bangunan itu panjangnya masih sama dengan makam pada umumnya. Untuk berziarah ke makam panjang, kami harus keluar bangunan dan berjalan lagi sekitar 100 meter arah timur. Di sana terdapat makam Sayyid Kharim, Sayyid Ja’far, dan Sayyid Syarif. Ketiganya berada dalam satu areal yang dibatasi pagar setinggi pinggang orang dewasa. Mereka adalah saudara-saudara Sultan Mahmud atau paman Siti Fatimah. Panjang masing-masing makam sama, sekitar 9 meter.
Selain itu, masih ada tiga makam panjang lainnya, yaitu makam Sayyid Jalal, Sayyid Jamal, dan Sayyid Jamaluddin. Mereka adalah para prajurit Sultan Mahmud yang diberi kuasa untuk memegang dan mengurus barang-barang puasaka pada masa itu.

Makam panjang prajurit Sultan Mahmud
 
Makam panjang prajurit Sultan Mahmud
Saya pun penasaran dan bertanya kepada Bu Ainur, apakah mereka yang berada di balik makam panjang itu memang tinggi badannya dulu mencapai 9 meter. Ternyata tidak. “Makam-makam ini dibuat panjang sebagai simbol perjalanan dan perjuangan panjang mereka dalam menyebarkan agama Islam. Tinggi badan mereka ya sama seperti kita. Saya beberapa kali diketoki (Jawa: diperlihatkan wujud mereka),” terang Bu Ainur. (*)

6 comments:

  1. Masya Allah, luar biasa. Tokoh-tokoh penyebar Islam penyebar hikmah. Filosofi panjangnya makam memberi penegasan, serta pemberian "rambu-rambu" agar memuliakan ziarah dengan meminta segalamya hanya kepada Allah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas Rifqy. Ziarah ke makam ini memberi banyak pelajaran buat saya, semoga buat pembaca juga. Amiin.

      Delete
  2. Mas, ini keren banget ya situsnya. Dan auranya Siti Fatimah kuat banget, aku sampai merinding bacanya...
    Kak Olip mesti ke sini, nih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga merinding pas di sana, Mbak. Kami hanya berdua, si juru kunci ga nemenin. Kalau sendiri, mungkin saya berpikir dua kali buat masuk bangunan makam itu. Hehehe.

      Delete
  3. Kirain memang orang yang dimakamkan disitu tinggi, ternyata cuma simbol saja ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kirain juga gitu, Kak Fahmi, hehehe. Tapi ada juga sih versi yang bilang, makam ini memanjang sendiri karena karena mereka adalah wali. Wallahu a'lam.

      Delete