Tuesday, 30 June 2015

SENJA DI PELABUHAN GILIMANUK



Saya selalu berusaha menemukan sisi baik dari apa pun yang terjadi di depan mata. Itu cara saya untuk menikmati setiap momen. Salah satunya adalah ketika menyeberangi Selat Bali, penghubung Pulau Bali dan Pulau Jawa. Beberapa kali saya menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk, Bali, menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, dengan kapal feri dan kerap malam hari. Nah, Akhir April lalu, kebetulan kapal yang saya tumpangi berlayar pada sore hari. 

Hari sudah menjelang Maghrib. Baru beberapa langkah masuk kapal, saya dan beberapa penumpang lain tertarik menengok ke luar kapal. Terdengar suara teriakan-teriakan.
“Om, lempar uang!”
“Uang koin boleh, uang kertas juga boleh.”
“Ayo, Mbak, lempar uangnya!”
“Jangan cuma moto, Mas.”
Ternyata mereka adalah anak-anak yang dikenal dengan anak koin. Mereka sengaja meloncat ke laut dan menyelam untuk mengejar koin yang dilemparkan para penumpang. Mereka kuat  berenang lama sambil berteriak-teriak dan menunggu respons penumpang. Beberapa penumpang memang melempar uang koin dan kertas. Mereka tampak antusias menyaksikan anak-anak ini menangkap uang. Begitu juga anak-anak koin. Mereka tak kalah antusias menangkap uang meskipun hanya uang logam Rp 500. 

Menunggu koin
Tahan berenang lama
Saya lihat, beberapa anak masih usia sekolah. Sebagian lainnya telah dewasa. Kabarnya, perkerjaan ini mereka pilih untuk mengumpulkan uang sekitar Rp 20-25 ribu per hari. Mereka umumnya sejak kecil hidup di lingkungan pelabuhan karena orang tua mereka adalah buruh atau pedagang di sana. Dan, setiap kali menyeberang, saya selalu menemukan mereka, baik pagi, siang, sore, maupun malam. Bukan hanya di Pelabuhan Gilimanuk, melainkan juga di Pelabuhan Ketapang.
Mereka seperti tak kenal waktu. Tak heran, kulit mereka pun tampak legam. Rambut memerah. Nyali mereka tak bisa dipandang remeh. Bayangkan, selain terjun ke laut dan berenang cukup lama, mereka harus menyelam tanpa peralatan apa pun. Selain itu, gerakan kapal tentu saja berisiko tinggi dan mengancam keselamatan mereka.

Kapal andalan Jawa-Bali
Sunset dan Gunung Raung Banyuwangi
Beberapa menit kemudian, kapal mulai meninggalkan Pelabuhan Gilimanuk dan anak-anak koin itu. Kapal-kapal beragam jenis berseliweran menghidupkan suasana. Maklum, Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk merupakan pintu utama lalu lintas darat Jawa-Bali. Karena itu, arus transportasi di sini sangat padat. Tak jarang, untuk menyeberang, kendaraan-kendaraan harus antre di pelabuhan hingga berjam-jam.

Senja di Pelabuhan Gilimanuk
Saya pun menaiki anak tangga menuju dek atas. Pemandangan di seberang laut sangat menghibur. Sunset sore itu menjadi daya pikat perjalanan kali ini. Gunung Raung Banyuwangi tampak menjulang dari kejauhan. Angin laut tak mematahkan keinginan saya untuk bertahan di tempat ini. View yang tersaji membuat saya enggan masuk ke ruang penumpang. Hingga sekitar satu jam kemudian, kapal merapat di Pelabuhan Ketapang dan menyisakan cerita berkesan tentang senja di Pelabuhan Gilimanuk.  (*)

2 comments:

  1. Dulu, waktu masih kerja di bali sering nyeberang lewat gilimanuk. Dan penyeberangan ini memang salah satu spot yang fotogenik sepanjang jalur jawa bali :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Kak Fahmi. Kalau saja waktu itu siang, saya mau nulis human interest khusus anak-anak logam. Hehehe

      Delete