Saturday, 24 January 2015

MENELURUSI SITUS TAMAN SARI




Jika Anda tertarik dengan situs bersejarah dan sedang berkunjung ke Yogyakarta, jangan lewatkan Taman Sari. Sebab, Taman Sari kabarnya telah dinobatkan sebagai cagar budaya ke-19 di dunia. Taman Sari terletak tak jauh dari Keraton Yogyakarta. Saya hanya membutuhkan waktu sekitar 8 menit naik becak. Sebenarnya, jalan kaki juga bisa, tetapi kaki saya waktu itu sudah agak berat dipakai jalan setelah menjelajahi Museum Benteng Vredeburg dan KeratonYogyakarta, di hari pertama trip Yogyakarta, 31 Desember 2014.

Taman Sari merupakan situs bekas taman Keraton Yogyakarta. Awalnya, kompleks kebun istana yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758-1765 ini terdiri atas gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, dan masjid bawah tanah di lahan seluas 10 hektare. Namun, saat ini yang tersisa dan bisa dikunjungi hanya beberapa bagian situs. Meski demikian, saya butuh waktu sekitar satu jam untuk melihat setiap sisinya. 
Umbul Pasiraman 1

Umbul Pasiraman 2
Bagian pertama yang saya masuki setelah membeli tiket seharga Rp. 5.000 adalah kolam pemandian yang disebut Umbul Pasiraman. Pada masa itu, Umbul Pasiraman adalah kolam pemandian khusus sultan bersama para istri dan putri-putri beliau. Kolam ini dikelilingi tembok yang bagian luarnya mulai berlumut. Terdapat tiga kolam dengan sejumlah mata air dan pot bunga. 

Di bagian tengah kolam, terdapat menara yang diapit dua bangunan. Bangunan tersebut merupakan tempat beristirahat dan berganti pakaian bagi sultan bersama para istri serta putri-putri beliau. Bukan hanya itu. Ada juga ruang sauna. Pada zaman dahulu sudah ada sauna ya. Bentuknya serupa tempat tidur dengan beberapa lubang di bawahnya sebagai tempat pembakaran.

Klik!

Ruang sauna
Dari jendela bangunan itu, pengunjung bisa melihat kolam pemandian dari atas. Pada masanya, hanya sultan dan para perempuan yang boleh masuk kompleks pemandian ini. Sayangnya, saat ini tangga kayu dan jendela bangunan-bangunan bersejarah itu dipenuhi coretan pengunjung yang tidak bertangung jawab. Coretan-coretan itu sangat mengurangi suasana sakral yang seharusnya terjaga di situs bernilai historis tinggi seperti ini.

Celah cahaya
Selanjutnya, saya menuju ke masjid bawah tanah. Saya harus melewati perkampungan penduduk yang pada masa itu kabarnya berupa danau buatan. Tidak lebih dari 10 menit, saya sudah sampai di lorong bawah tanah yang membawa saya ke masjid tersebut. Lebih tepatnya bangunan ini adalah bekas masjid karena tidak digunakan lagi untuk beribadah sejak tahun 1812, tepatnya sejak Keraton Yogyakarta membangun Masjid Gede Kauman. 

Lorong masjid bawah tanah

Lantai 2
Bangunan yang pada masa itu juga difungsikan sebagai benteng ini sangat unik dengan sejumlah lorong, jendela, dan anak tangga. Desain masjid ini bundar dengan sumur di bagian tengahnya. Di atas sumur tempat wudhu itu, terdapat lima anak tangga yang melambangkan lima rukun Islam. Bagian atas masjid berbetuk lingkaran tanpa atap. Terdapat banyak jendela sebagai ventilasi sekaligus sarana pencahayaan yang menerangi seluruh ruangan masjid. 

Tangga di atas sumur
Pemotretan

Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Sumur Gumuling karena bentuk sumur di dalamnya menyerupai guling. Bangunan ini terdiri atas dua lantai. Pada masa itu, lantai pertama untuk jamaah pria, sedangkan lantai kedua untuk jamaah perempuan. Di setiap lantai terdapat mihrab atau tempat imam berdiri untuk memimpin salat jamaah. 

Masjid Gede Kauman

Hari itu, saya mendapat pengalaman berharga tentang kejayaan arsitektur Taman Sari dan Masjid Sumur Gumuling. Meski telah sangat lama tidak difungsikan seperti tujuan awalnya, kedua tempat itu masih berdiri kokoh. Memang, kesakralannya telah berkurang. Namun, keeksotisannya masih mampu mengundang banyak pengunjung. (*)

4 comments:

  1. fotoe buwaguuus pak Edy!!!!
    "LANJUTKAN"
    pakai lensa standard dr kamera ta pak??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasiiiiiih, Yunus. Iya, saya pakai lensa standar kamera. Ayo kapan hunting bareng?

      Delete
  2. boleh tau pake gear apa, mas? apik tenan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur suwun, Mas Erlinel. Saya cuma pakai Nikon P520 :-)

      Delete