Saturday, 17 January 2015

KERATON YOGYAKARTA DAN ASET BUDAYA



Setelah puas mengitari Museum Benteng Vredeburg, tujuan saya berikutnya adalah Keraton Yogyakarta. Cukup berjalan kaki sekitar 10 menit, saya sudah sampai di pusat peradaban Yogyakarta yang dibangun pada tahun 1775 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I ini. Sebenarnya banyak bapak pengayuh becak yang menawarkan jasa dengan tarif Rp 10-5 ribu. Namun, kaki saya masih kuat untuk jalan. Hehehe. Selain itu, di sepanjang perjalanan saya bisa melihat lebih detail ikon Yogyakarta lainnya, misalnya Istana Kepresidean Yogyakarta (Gedung Agung), tugu batik, titik nol kilometer di sekitar Kantor Pos Besar Yogyakarta, monumen berbentuk hati yang mulai ramai dengan gembok cinta, dan museum kereta. 


Bangsal Sri Manganti
Sampai di Keraton, saya harus antre dengan sejumlah pengunjung lainnya untuk mendapatkan tiket masuk. Lumayan ramai. Maklum, hari itu adalah hari terakhir tahun 2014. Harga tiket untuk pengunjung domestik Rp. 5.000 per orang plus Rp.1000 jika membawa kamera. Sedangkan untuk wisatawana asing, harga tiket Rp. 12.500 plus Rp. 15.000 untuk kamera. Keraton dibuka setiap hari mulai pukul 09.00-14.00, khusus hari Jumat pukul 09.00-11.00. Pengunjung bisa memanfaatkan pemandu Keraton dengan biaya tambahan. Saya cukup ditemani kawan berhati baik, Dede Sunarya.

Situs budaya
Asri dan teduh
Keraton Yogyakarta, disebut juga Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, berdiri di atas lahan seluas 14.000 m2. Di dalamnya terdapat banyak sekali bangunan berarsitektur Jawa dengan beragam fungsi dan makna filosofisnya. Taman, halaman, dan gazebo pun tak luput dari sentuhan artistik etnik Jawa yang saya yakini kental dengan makna yang sakral. 

Bangunan pertama yang kami singgahi adalah Bangsal Sri Manganti. Kebetulan waktu itu hari Rabu dan sedang digelar pertunjukan kesenian wayang golek. Tersedia sejumlah kursi untuk pengunjung yang ingin menyaksikan pertunjukan tersebut. Berikut ini jadwal pertunjukan di Bangsal Sri Manganti yang dirilis www.gudeg.net.
·           Gamelan: Senin dan Selasa pukul 10.00-12.00
·           Wayang kulit: Sabtu pukul 09.00-12.00
·           Tari: Minggu dan Kamis pukul 09.00-12.00
·           Puisi: Jumat pukul 10.00-11.30
·           Wayang golek:  Rabu pukul 09.00-12.00

Wayang golek
Generasi penerus
Abdi dalem
Selanjutnya, saya melanjutkan penjelajahan dengan keluar masuk sejumlah museum. Setiap museum menyimpan benda-benda bersejarah dan memberi kesan betapa Keraton Yogyakarta merupakan salah satu aset budaya Indonesia yang harus dilestarikan. Pengunjung bisa melihat dari dekat (bukan menyentuh, hehe) benda-benda pusaka Keraton seperti keris dan senjata-senjata lainnya, busana Keraton, kereta kencana, barang pecah belah, seperangkat gamelan, furniture, lukisan, foto Sultan beserta keluarga, serta barang-barang pemberian negara lain sebagai hadiah untuk Keraton.

Lukisan Sultan
Megah
Bangunan yang juga menarik perhatian saya adalah museum fotografi Sultan dan museum batik. Di museum fotografi Sultan, pengunjung bisa menyaksikan sejumlah kamera lama dan aksesorisnya yang digunakan Sultan untuk menyalurkan hobi fotografi pada masa itu. Dan, tentu saja ada sejumlah foto hasil bidikan Sultan. Menurut saya, foto-foto klasik tersebut indah dan bercerita. Sedangkan di museum batik, kita bisa membuktikan sendiri kekayaan batik yang telah diakui sebagai warisan dunia. Kain batik yang berusia ratusan tahun pun ada di sana. Tak ketinggalan sejumlah koleksi busana bernilai tinggi yang sempat dikenakan oleh bangsawan Keraton. Namun, di museum batik, pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar.


Gazebo
Klasik
Meski telah menghabiskan waktu sekitar satu jam, saya tak merasa lelah. Sebab, kawasan Keraton sangat teduh dengan pepohonan tinggi dan rindang. Halaman-halamannya pun luas sehingga mampu menampung banyak pengunjung. Namun, kami harus mengakhiri kunjungan ini karena masih ada destinasi lain dan sudah jam makan siang, hehe. Kami pun memilih makan siang di Bale Raos yang terletak tepat di belakang Keraton.

Gerbang Bale Raos

Pendopo Bale Raos
Bale Raos adalah restoran yang khusus menyajikan makanan dan minuman kesukaan Sultan Hamengku Buwono dan keluarganya sebagai menu andalan. Misalnya, semur piyik kesukaan Sultan Hamengku Buwono IX, urip-urip gulung kesukaan Sultan Hamengku Buwono VII, sanggar kesukaan Sultan Hamengku Buwono VIII dan X, sup timlo kesukaan Sultan Hamengku Buwono X,manuk nom kesukaan Sultan Hamengku Buwono VII, beer Jawa kesukaan Sultan Hamengku Buwono VIII, dan masih banyak yang lain. 

Bingung dengan nama-nama menunya? Saat pesan, lebih baik pengunung bertanya bahan dasar menu yang dipilih supaya tidak kaget saat hidangan sudah tersaji. Meski menu-menu tersebut adalah santapan favorit Sultan dan keluarga, harganya cukup terjangkau. Minuman dan dessert mulai Rp. 7.000. Sedangkan menu utama mulai Rp. 20.000. Dan, jadilah makan siang kali ini menyempurnakan aura Keraton yang saya kunjungi. (*)

No comments:

Post a Comment